Menerima Keadaan

*Dibalik tulisan yang dimuat di majalah UMMI edisi Juli 2017*

19693376_10209842646367777_3289828004837453610_o.jpg

Ternyata begitu banyak hal yang menghampiri diri kita, namun kita menolaknya. Kita enggan menerimanya. Merasa takdir salah alamat, bahkan merasa tak pantas menjalaninya.

Namun apapun jalan hidup kita, kita bisa bahagia kok. Jika…

Jika kamu bisa berdamai dengan semua ketidakidealan yang ada dalam keseharianmu.

Jika kamu berhenti membandingkan dirimu dengan yang lainnya.
Jika kamu mau menerima kesalahanmu, kekuranganmu dan juga kekurangan pasanganmu, anak-anakmu, keluargamu, juga orang lain.

Ternyata ini bab mendasar Iman pada qadha dan qadar. Percaya bahwa semua sudah diatur pas sesuai dengan kemampuan kita.

Yaaaa…
Untuk bahagia mudah banget, hanya bersyukur dan bersabar utk menerima keadaan.

____

Tulisan yg dimuat di majalah UMMI edisi Juli 2017 ini menggambarkan bagaimana aku gak menerima sakit. Saat itu, dengan status ibu dengan 2 anak balita yang lagi banyak butuh perhatiannya dan suami lagi study di luar negeri. Saat klimas sakit, aku berpikir akan meninggal karena banyak halusinasi datang. Aku gak siap untuk meninggal, masih banyak hal yang belum diselesaikan, termasuk anak-anak yang masih kecil. Saat itu aku makin tidak menerima sakitku.

Hingga akhirnya, aku menyadari bahwa aku tidak ikhlas menerima keadaan.

Saat merasa lapang dada menerima apapun yang akan Allah tentukan, ternyata di saat itulah Allah berikan kesembuhan.

Serius tiba-tiba belasan sariawan hilang, yang tadinya gak bisa makan karena tiap buka mulut sakit eh esoknya bisa makan lahap. Sebelumnya buat bangkit dr kasur aja susah, eh besoknya bisa nyetir mobil! Cepet bgt sembuhnya! Ternyata kunci sembuhnya ya ikhlas menerima keadaan.

Fix! Memang diri kita sendiri yang membuat hari-hari kacau dan galau.

Yah, semua yang terjadi dalam hidup kita udah diatur pas dan ujian yang datang malah bikin tmbh deket dgn-Nya gak sih, minimal jd kenceng doanya kan?

Jodoh yang tak kunjung tiba, buah hati yang lama ditunggu tak hadir jua, pernikahan yang ternyata menjadi mimpi buruk, anak yang kehadirannya dirasa semakin membuat repot dan berantakan hari-hari, rejeki yang rasanya seret dan gak pernah cukup, pekerjaan yang membuat gila, sakit yg tak kunjung sembuh, dan rentetan kenyataan hidup lainnya.

Kamu sibuk berkeluh-kesah, menggerutu, menyalahkan siapa pun yang kamu rasa pantas disalahkan karena membuat hidupmu jadi buruk. Kamu menyalahkan dirimu, bahkan tanpa sadar menggugat Tuhanmu, kamu mencoba menerima hari-hari yg dijalani namun dengan terpaksa dan tidak bahagia tentu saja!

Sementara itu, di suatu tempat ada yang ujian hidupnya lebih berat darimu dan dia menerimanya dgn hati lapang, sabar dan syukur. Dan dia bahagia, baik-baik saja!

Karena percaya bahwa garis hidup sudah ditentukan dgn penuh rahmat dan kasih sayang dari-Nya.

Tak ada nasib yang melekat pada suatu insan melainkan sudah pas kadar dan ukurannya. Tak lebih dan tak kurang, pas sempurna sesuai usaha dan doa tentu saja.

Tak perlu kamu merasa merana atas rentetan hal yang kamu anggap ujian. Tak perlu baper, iri, dengki dan merasa tidak adil jika hidupmu terasa tidak sesempurna yang lainnya.

Semua ada ujian masing-masing kok. Semua bisa bahagia dan juga bisa sedih. Bedanya cuma gimana kita bisa ikhlas menerimanya.

Inget lho ini bab mendasar dari salah satu rukun iman, iman pada qadha dan qadar. Kalau ikhlas menerima keadaan saja susah, ada yang dipertanyakan dgn iman kita pada Allah.

Barangkali ujian yang kamu lalui akan menjadikanmu insan yang lebih ikhlas, lebih kuat, lebih tegar, lebih berisi, lebih bahagia!

Bukankah, sering kita dapatkan cerita jodoh datang saat sudah mulai tidak memikirkannya, buah hati datang saat perlahan melupakannya, penyakit sembuh saat ikhlas menyerahkan kesembuhan pada-Nya, rejeki mengalir deras saat kita yakin Allah yg mencukupkan sehingga tdk berat berbagi rejeki orang lain, dan masih banyak cerita lainnya.

Hidup akan lebih indah dengan menerima keadaan, berdamai dengan kenyataan.

Bahagia akan lebih lagi jika kita percaya bahwa keadaan kita sekarang adalah keadaan terbaik sesuai dengan kesanggupan diri kita.

Allah Maha Pengasih dan Penyayang yang sayangnya melebihi orang tua, anak, dan kekasih padamu. Percayalah, semua yang terjadi pada dirimu adalah yang terbaik, tentu saja sesuai dengan upaya dan doamu.

Artinya, yaa yang terjadi ya pasti terbaik sesuai dengan upayamu dan doamu namun esok hari tentu saja ada bagianmu untuk menentukan dengan: upaya dan doa yang lebih kuat lagi

Tetap semangat yaaaa

by: @zarahsafeer

Boleh share ,jgn lupa cantumin sumbernya 😀

Advertisements

WAJIB DIBACA ORANG TUA

Bu…

Gak perlu cantik untuk menjadi idola bagi mereka. Krn pasti kamu tercantik bagi mereka. Meski sudah pudar pesonamu, keriput dan bekas-bekas jerawat.

Gak perlu berkarya aneka rupa, masakanmu udah jadi karya terbaikmu versi mereka apapun rasanya. Walau cuma telur ceplok dan telur dadar kadang keasinan kadang hambar. Tapi ngangenin, biar mereka ingin segera pulang saat homesick di perantauan.

Gak perlu memikirkan outfit di hadapan mereka, kamu dengan baju rumahannu bener-bener bikin nyaman dan kangen mereka. Gak perlu mahkota dan gaun, cukup daster dan jepitan/kuciran kamu tetap ratu di hati mereka.

Gak perlu jadi sosok anggun, penuh pesona dan lembut. Bahkan gaya marah-marahmu dan rentetan omelanmu kadang mereka rindukan. Namun diam-diam mereka sedih tidak membuatmu tersenyum.

Bahkan, begitu dalam cinta mereka hingga rela memelukmu, mengikutimu kemana saja, walau kamu belum mandi seharian!

Pak…

Gak perlu bergaya maskulin, gak perlu nge-gym supaya sixpack. Kamu tuh lelaki terkeren bagi mereka walau kenyatannya perut bundar dan gaya ketinggalan zaman.

Gak perlu kerja di tempat bonafit. Bagi mereka, kamu adalah lelaki paling profesional dengan tanggung jawab dan kegigihanmu mengayomi anggota keluargamu.

Gak perlu banyak bicara, sepatah dua patah kata saja mereka dengar baik-baik dan selalu mereka ingat sepanjang usia. Petuah Bapak terpatri di sanubari.

Gak perlu membelikan banyak barang bagi mereka. Sebenarnya hanya hal sederhana yang mereka nantikan, yaitu waktu luang untuk bermain, belajar, bicara, tertawa bersama.

Bahkan saking rindunya mereka padamu, saat kamu pulang kantor dan mengetuk pintu rumah perlahan, mereka langsung berhamburan menyambutmu. Berteriak, tertawa, bergelayutan padamu. Tak peduli bau keringat, bau asap kendaraan yang menempel pada badanmu.

Cinta mereka padamu tanpa syarat.

Anehnya, justru kita yang membuat syaratnya dan membuat susahnya.

“Kalau sayang sama Ibu, kamu harus masuk sekolah XXX”

“Kalau kamu tetep lanjutin hobi kamu yang ini, Ibu gak ridho.”

“Kalau kamu sayang Bapak, kamu harus jadi Dokter seperti cita-cita Bapak (yang gak kesampaian)”

“Kalau mau dapat ridho orang tua, kamu harus nikah sama pilihan orang tua”

“Kalau mau bikin ortu bangga, kerja tuh di tempat keren kayak dia bikin keluarga bangga.”

Anehnya, justru kita yang membuat rentetan syaratnya. Anehnya, justru kita yang tak menerima mereka apa adanya. Anehnya, malah kita yang tidak ridho pada mereka.

*Kecuali kalau syarat jadi anak sholeh wajib itu mah biar selamat dunia-akhirat.

Padahal mereka tidak pernah memilih dilahirkan oleh siapa. Tak pernah meminta ingin dibesarkan oleh orang tua mana.

Namun, kelak mereka bisa menggugatmu. Gugatan di hari akhir nanti, jika kamu tidak mengajarkan mereka mengenal Penciptanya. Jika kamu tidak menuntun mereka di jalan-Nya.

Namun, apapun kamu, siapapun kamu, bagaimana keadaanmu mereka selalu mendoakanmu, minimal dalam doa-doa setelah sholatnya. Bahkan, sekalipun kamu telah menjadi tulang-belulang doa-doa dari mereka yang sholeh terus mengalir padamu, menjadi amal jariyahmu.

Bu,Pak …
Tolong jangan berikan banyak syarat untuk membuktikan sayang mereka padamu. Mereka, pengagum rahasiamu yang menerima dirimu apa adanya yang akan lebih bahagia lagi jika kamu bisa menerima mereka apa adanya.

Tak perlu kamu bandingkan dengan anak lainnya, pengagum rahasiamu tak pernah membandingkan dirimu dengan siapapun. Mereka menerimamu tanpa syarat.

Tolong, terima mereka dengan ridhomu. Jangan mempersulit surga mereka, karena ridhomu adalah ridho Allah bagi mereka.

Jika ridhomu telah mereka dapatkan, hidupnya akan lebih mudah dan indah penuh barokah. Permudahlah surga bagi mereka~~~

By: @zarahsafeer

Boleh share