Peran Ayah Ketika Long Distance Marriage

                Tulisan ini untuk men-share apa yang kudapat saat acara parenting di sekolah Alzam. Sengaja aku tanya ke psikolog gimana sih membesarkan anak sebagai single-fighter karena kan ada jeda waktu berbulan-bulan sebelum kami menyusul abinya ke UK. Apalagi yang bikin cemas adalah usia anak golden age adalah ibarat masa pembangunan pondasi, apabila pondasi tidak kuat bangunan bisa goyah dan roboh, bukan sekarang terlihatnya namun puluhan tahun kemudian saat mereka sudah dewasa terutama setelah mereka berumah tangga.

                Yeaaa….hal pertama yang aku khawatirkan tentang pilihan Long Distance Marriage ini adalah tentang kebutuhan anak-anak akan abinya. Apalagi otak mereka ini bagaikan photographic memory saat usia sampai 5 tahun, adegan demi adegan dalam hidupnya terangkai dan terekam jelas. Hal ini tentu memberikan pengaruh bila tumbuh-kembang mereka jauh dari sosok abinya walau cuma beberapa bulan saja.

                Tapi, bersyukurlah kita di tengah kemudahan teknologi opsi voicecall dan videocall begitu mudah terjangkau, saling mengirim foto dan video begitu mudahnya. Namun, balita belum dapat membedakan konsep nyata dan maya. Inipula sebenarnya menjadi buah simalakama saat mengenalkan videocall ataupun voicecall pada mereka.  Sehingga, pernah akupun mendengar cerita seorang teman yang anaknya memilih tidur memeluk handphone daripada ayah aslinya karena merasa ayahnya adalah handphone, yang selama ini mengobrol dan bercakap-cakap dengannya saat berjauhan dengan ayah. Duh, sedih yah.

                    Sebenarnya kalau anak masih bayi sampai usia dua tahun, belum begitu merasa perlu kehadiran ayah, karena masih fokus ke ibunya. Jadi, kalo LDM saat anak-anak masih usia 2 tahun ke bawah masih adem-ayem. Tapi kalo udah batita menuju balita udah deh, drama LDM ini bisa jadi drama banget.

                 Yah, berikut beberapa tips supaya ibu dapat menghadirkan sosok ayah di rumah, agar anak-anak turut merasakan bahwa ayah mereka ikut mengawasi dari kejauhan.

  1. Ibu menyebutkan tentang sikap ayah.

Ibu mengutarakan ketidaksukaan ayah pada anaknya bila berbuat tidak baik, juga menyebutkan bahwa ayah mengapresiasi jika anak berprestasi. Hal ini penting ternyata hingga anak-anak merasa tidak ‘lost contact’ dengan ayahnya. Sebagai contoh saat anak-anak berantem rebutan mainan, ibu bisa menggunakan kalimat “anak-anak…ingat apa kata ayah, ayah gak suka kalo kalian berantem…” menghadirkan ayah dalam kehidupan sehari-hari harus didukung dengan sosok ibu yang selalu mengingatkan kepada anak-anak bahwa ayah mereka tetap sebagai pendidik utama.

2. Meminta izin pada ayah.

Biasanya setelah usia lewat 2 tahun , balita  sudah mulai pintar merengek, merajuk dan tantrum. Sebagai seorang ibu jangan mengambil semua keputusan berdasarkan otoritas sendiri , walaupun pada kenyataannya iya namun anak-anak harus tahu bahwa pemimpin rumah tangga itu adalah ayah. Sehingga jika ada suatu permintaan dari anak-anak, ibu bisa memberikan opsi “tanya ayah dulu ya…”atau “telpon ayah dulu ya boleh atau engga..”Dengan demikian , anak-anak dapat merasakan bahwa ayah merekalah bertanggungjawab akan keseharian mereka.

  1. Ibu bersikap tegas.

Sosok ayah memang identik dengan ketegasan. Sementara ibu lebih sering sebagai sosok penyayang. Jika tidak ada peran ayah dalam keseharian, tentu yang hilang adalah sosok tegas yang mereka butuhkan.  Dikatakan bahwa anak-anak yang dekat dengan sosok ayah yang tegas membantu mereka menjadi pribadi yang lebih percaya diri, tak malu berkompetisi dan teguh berpendirian. Untuk mengisi sosok yang kosong di rumah, ibu harus pandai-pandai berperan sebagai ayah saat situasi dibutuhkan. Maksudnya adalah, ibu harus bisa jadi sosok yang tegas saat diperlukan.

  1. Mengunjungi kakek/om/pakde.

Bagaimanapun anak-anak tetap butuh sosok lelaki dewasa dalam masa perkembangannya. Jika ayah mereka untuk jangka waktu yang lama tidak ada, dan bila rumah kita jaraknya dekat dengan kakek/om/pakde anak-anak. Ayo…rutin bermain ke rumah kakek/om/pakde , anak-anak terutama anak lelaki juga harus belajar bagaimana menjadi lelaki dewasa bukan? Biasanya memang anak-anak yang jauh dari ayahnya akan mencari sosok lelaki dewasa untuk ia dekati, bisa jadi guru lelaki di sekolahnya ataupun tetangga dekat rumah dsb.

  1. Menerima keadaan, ikhlas.

Apapun skenario dan jalan hidup bagi kita dan anak-anak sudah ada yang mengaturnya. Berbekal dengan taqwa, insyaAllah semua ada jalan keluarnya. Muhammad saw terlahir sebagai seorang yatim tanpa ayah, bahkan jauh dari ibu dari kandungnya selama usia golden age. Muhammad balita tumbuh jauh dari keluarga sedarah, lalu akhirnya ia besar bersama lelaki-lelali pengganti ayahnya: Kakeknya dan omnya. Demikian pula kita, sudah ada jalan masing-masing yang membedakan apakah jalan hidup kita akan menjadikan kita lebih dekat padaNya atau malah menjauh.

Yahhh….kok endingnya jadi sedih…..

Memang gak mudah sih, jika memilih Long Distance Marriage…

Eh tetiba keingetan, ada salah seorang follower yang inbox di Facebook. Kata beliau, kurang lebih “Mbak…kalau suami ada di rumah, setiap hari ada tapi sibuk urusannya sendiri ga peduli sama istri dan anak-anaknya, itu sama aja kayak Long Distance Marriage gak mbak?

Duh, tiba-tiba diri ini menerawang….iyaaa….banyak diantara kita yang ada di rumah tapi hati dan pikiran sibuk dengan media sosial, pekerjaan, hobi dsb. Itu….lebih-lebih dari Long Distance Marriage pedihnya….duh semoga terhindar dari demikian yaaa…..

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s