Melahirkan Dengan Indah

Saya masih ingat gimana rasanya haru-biru bahagia saat melahirkan kedua anak kami . Pengalaman  yang begitu dinanti antusias sekaligus cemas. Gelisah sekaligus pasrah, Alhamdulillah Allah yang telah memudahkan segalanya. Hingga saat mencoba ingat lagi bagaimana rasanya tidak teringat rasa sakit dan nyerinya tapi masih begitu teringat jelas rasa bahagia yang tak terlukiskan. Indah rasanya, mengingatnya seperti membangkitkan endorfin dari dalam diri.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang melahirkan Alzam dengan indah tanpa rasa sakit, sekarang saya baru paham jika kita memang ikhlas dan meniatkan melahirkan adalah ladang pahala, jihadnya seorang wanita. Maka bukan teriakan kesakitan penuh erangan , cakaran, umpatan, yang keluar tapi senyuman perjuangan, dizkr dan juga keberanian ditambah kebahagiaan. Karena apa? Karena ini amalan tinggi: jihad. Jihad, yang dengannya seseorang tak perlu lagi dihitung amalannya melainkan telah ia pegang tiket langsung menuju surga.

Jika kita ingat kisah para sahabat Rasul yang berbondong-bondong merelakan dirinya ikut peperangan dengan ganjaran surga jika gugur. Mereka tak pantang mundur, malah makin lantang bertempur. Senyuman kemenangan tengah ia kembangkan, tak ada teriakan kesakitan apalagi ketakutan. Jihad, kata jihad menjadi vitamin bagi jiwa-jiwa mereka karena ganjaran akan bertemu dengan RabbNya.

Betapa mulia wanita bisa merasakan jihad namun tak harus ikut berperang, dengan melahirkan saja sebagai kodrat wanita sudah dihitung sebagai pahala jihad. Hal ini berarti dua hal, melahirkan adalah perjuangan yang penuh kepayahan sehingga jika bisa setaraf pahalanya dengan bertempur di jalanNya dan juga melahirkan adalah amalan unggulan. Hmmm…jadi tahu lagi kenapa banyak anak banyak rejeki, kan jadi banyak melahirkan jadi makin banyak tiket ke surga kan.

 Maka, jika kita memang meyakinkan diri kita bahwa kita tengah menghadapi peristiwa penting dalam hidup ini: Jihad, kita akan menyiapkan sebaik-baik mungkin perbekalan, kendaraan tempur dan juga kesiapan iman sebagai penguat mental.

Para calon ibu yang akan melahirkan bayinya begitu antusias menyambut proses kelahiran anaknya, namun apakah sudah kita siapkan sebaik-baik bekal yaitu: iman.

Iman di sini adalah bahwa apapun yang akan terjadi semua sudah dalam ranah qadha dan qadr yang telah ia tetapkan. Jenis kelamin anak, kapan lahir, dimana , dengan siapa, normal atau operasi semua sudah ada jatah rejekinya masing-masing. Iman yang dimaksud juga bahwa hanya Allah yang menolong dan memudahkan segala prosesnya, sehingga menggerakkan diri kita untuk makin mendekat kepadaNya karena hanya Dia yang menolong bukan dokter atau bidan. Makin menumbuhkan iman dalam diri kita artinya makin memperbanyak amalan ibadah harian dari : sholat, tilawah, sodaqoh dst.

Para ibu, jika kita memang meniatkan melahirkan sebagai amalan jihad kita….seharusnya kita begitu menanti rasa sakit dan nyeri yang datang itu, kita sambut dengan senyuman merekah dan hati berbunga indah. Ya Allah, Alhamdulillah telah kami beri nikmat ini.

Saya masih teringat perkataan dokter saat menjahit luka episiotomi anak pertama, beliau berkata “Ibu sakit gak sih?”Dokter bertanya penasaran.  Suami pun bilang “Ngelihat Ummi melahirkan kayaknya gak sakit ya..” Duh gimana dong masa’bilang gak sakit. Sakit sih ada tapi dikalahkan oleh rasa bahagia, pasrah sudah. Jadi, tak ada teriakan, apalagi cakaran.

Lalu saat melahirkan anak kedua, bidan bertanya “Baru kali ini saya lihat ada ibu-ibu habis melahirkan langsung turun kasur dan aktivitas…” Kalo boleh kuakui melahirkan anak kedua memang lebih sudah ada pengalaman jadi lebih berani langsung aktivitas apalagi ditambah ngurus anak pertama. Tapi, sejujurnya saat melahirkan anak kedua saya pake teriak-teriak beda banget sama anak pertama yang so silent. Di sini saya merasa kesiapan mental dalam hal ini kondisi spiritual (baca:iman) yang sangat berpengaruh.

Saat mengandung anak kedua yang berjarak 1 tahun dari kelahiran anak pertama, saya belum menguatkan mental saya malah cenderung lemah karena merasa begitu banyak beban. Jujur saya,saya tidak menyiapkan mental utk hamil anak kedua di usia 26 tahun. Dengan kondisi bekerja ,mempunyai bayi usia setahun,hamil anak kedua, dengan dibantu asisten rumah tangga di rumah tanpa kehadiran suami setiap hari bikin rasanya hati menciut ,penuh galau dan resah.

Padahal hal-hal penyakit hati seperti: tidak tenang,galau,gelisah adalah karena kurangnya iman,tidak percaya atas kebesaranNya, bahwa semua telah ada ukuran dan takaran untuk semua ketetapan yang berlaku untuk diri kita. Betapa kita paham,hanya Allah yang membuat hati kita tenang, hanya dengan mengingatNya saja seharusnya sudah cukup menjadi obat hati bagi orang mukmin. Jika masih resah saja,bukankah sudah dijamin setiap doa kita akan dikabulkan walau definisi dikabulkan ini sendiri tentu beragam karena kita sebagai manusia tak punya ilmu sampai sana.

Jika mengingat lagi bagaimana euforia saat perjuangan jihad melahirkan kedua anak kami,rasanya makin tambah besar keimanan kami. Allah yang menciptakan manusia,menuliskan jalan lahirnya,rejekinya,jodohnya dan mautnya.

 Kami sebagai orang tua hanya berikhtiar untuk menjadi orang tua yang sholih bagi anak-anak kami. Berusaha memberikan pengajaran keimanan bagi mereka sedari dalam kandungan,melahirkan ,menyusui hingga setelahnya.

Wujud pengajaran iman kami saat melahirkan anak diantaranya,menghidupkan proses melahirkan sebagai ladang sebaik-baiknya jihad. Sehingga saat anak tengah berjuang keluar dari tubuh ibu,demikian pula ibu yang tengah berjuang adalah dizkr yang menyertainya,optimis dan semangat di setiap hela nafasnya, serta ikhlas apapun sakitnya jika kita yakin bahwa ini jihad makan kita akan tersenyum ikhlas menerimanya karena Allah menyaksikan perjuangan ini bukan dengan teriakan,umpatan,apalagi makian diikuti cakaran.

Ya Allah,semoga Engkau menerima amalan melahirkan kami sebagai amalan jihad kami…

*jauh sebelum gentle birth ,ataupun berbagai macam metode melahirkan secara damai dan melahirkan tanpa rasa nyeri.. Islam telah memberikan kabar kebahagiaan bagi wanita yang melahirkan yaitu: amalan jihad bagi ibu yang melahirkan. Sehingga sebagai orang beriman,akan menyiapkan sebanyak2nya bekal melahirkan dengan kesiapan utama:iman. Iman yang menjadikan api tak terasa panas dan tak membakar Ibrahim AS, iman yang mampu membawa Musa AS menyebrang tingginya laut, serta iman yang menjadikan indah peristiwa melahirkan🙂

2 thoughts on “Melahirkan Dengan Indah

  1. mirahtadi says:

    mom :’)
    saya melahirkan anak pertama dengan sc. anak saya sekarang umurnya 15 bulan. andai waktu itu persalinan normal, saya pengen punya anak lagi. saya nggak kapok dengan perjuangan sakitnya🙂

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s