Cita dan Usia

Manusia itu semakin bertambah usia semakin banyak keinginan, kemauan, angan. Semakin bertambah usia semakin banyak hal yang ingin dicapai, tak pernah puas bahkan selalu berkeluh kesah. Namun…terkadang kita lupa, atas semua hal yang kita inginkan ada qadha dan qadr yang telah Allah tetapkan sesuai dengan ukurannya tak ada yang salah dan tak ada yang keliru.

Bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan, dan niat yang dimaksud adalah bukan Cuma sekedar niat dalam hati. Itu mah selemah-lemahnya niat, kalo yang namanya niat yang diusahakan sampai berbuah perbuatan. Itu baru niat.

Namun…kembali lagi, saat semua usaha kita , saat ikhtiar dan tawakal tak dirasa berbuah hasil yang diinginkan. Saat keluh kesah, prasangka buruk dan penyesalan datang. Mungkin itu ujian terbesar keimanan. Karena , salah satu rukun iman adalah percaya pada qadha dan qadar dariNya. Semua , seluruh isi langit dan bumi dalam penjagaan dan aturanNya. Kita, manusia hanyalah debu kecil sangat kecil dibanding semesta ini semua, bahkan mungkin tidak sebesar debu pun.

Beriman juga berarti percaya bahwa semua sudah ada ukuran dan ketetapannya. Apapun yang menimpa diri kita sudah atas izinNya.

Atas cita dan angan…betapa penuh rasanya hati ini akan cita kebahagiaan dunia akhirat. Betapa ingin rasanya setiap hari kutorehkan dengan niat dan amal nyata untuk mewujudkannya. Tapi kadang aku lupa, bahwa usia adalah rahasia.

“Dari Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Nabi saw membuat garis persegi empat, dan ia menggaris (pula) di tengah yang keluar dari padanya. Lalu ia menggaris (lagi) beberapa garis kecil menuju ke garis yang di tengah ini dari sampingnya, yang berada di tengah. Lalu beliau bersabda,” Ini manusia, dan ini ajalnya yang mengelilinginya, dan garis yang keluar ini adalah cita-citanya, Adapun garis-garis kecil ini adalah harta benda. Dan jika ia terhindar dari yang ini, maka ia akan terkena yang ini.” (HR.Bukhari).

Jika mengingat hadist itu maka sesungguhnya hari ini adalah hari sebenarnya, bukan esok yang belum tentu datang. Cita-cita adalah apa yang kita wujudkan hari ini, bukan esok. Kita adalah hari ini bukan esok. Dan jika esok kan datang kita sudah siap menyongsong cita-cita karena hari ini telah kita wujudkan.

Hari ini adalah terdiri dari orang-orang, hal-hal dan lingkungan-lingkungan sekitarmu. Hari ini adalah terdiri dari , suamiku yang selalu menyapaku dari jauh, anak-anak yang kujumpai sejak bangun pagi, orang tua dan saudaraku yang selalu bertukar kabar di grup WA,bibi di rumah selalu menemaniku menjaga anak dan rumah, tetangga-tetangga yang selalu kujumpai setiap hari, orang-orang yang kujumpai di sepanjang jalan ke kantor, rekan-rekan kerja kantorku, masyakarat yang kulayani hari ini, teman-teman yang berkomunikasi hari ini lewat dunia maya,semua yang kujumpai hari ini. Mereka adalah amal nyata sesungguhnya atas hari ini, mereka adalah saksi atas hari-hari kita jika Allah bertanya di hari akhir nanti.

Jadi jika kita sibuk bermimpi akan masa depan, jangan lupa..bahwa masa depan terdiri dari hari ini.

Semoga hari-hari selalu semangat menjemput cita-cita!

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s