Anak Pendiam Cenderung Dibully

Semenjak bersekolah PAUD , Alzam terlihat banyak perkembangan kognitif dan sosial. Hal ini mungkin ga akan didapatkan Alzam jika di rumah saja dengan pengasuh. Namun zaman sekarang kadang kita sebagai orang tua khawatir tentang pengaruh buruk dari lingkungan sekolah , terutama teman-temannya. Ga bisa dipungkiri, sekolah isinya aneka ragam murid dari aneka ragam latar belakang pengasuhan di keluarga dengan sifat yang aneka pula. Apalagi usia di bawah Lima Tahun adalah usia yang masih tricky banget dalem hal pengelolaan emosi.

Alzam beberapa kali terluka di wajah, dicakar temannya, digigit, dipukul dsb. Anehnya hal itu makin menjadi sering , lukanya ada saja setiap minggunya. Pada awalnya aku masih menganggap wajar karena anak-anak masih belajar beremosi dan berempati. Namun karena akhir-akhir ini sering kujumpai luka, ditambah laporan dari pihak sekolah setiap kali ada kejadian. Hati makin was-was. Alzam pun sudah mulai ogah-ogahan berangkat ke sekolah, walau dibenaknya dia ga ada dendam ke anak itu. Pelakunya memang anak itu aja. Alzam memang sering bermain dengan anak itu. Tapi menurut laporan pihak sekolah, selama dalam pengawasan kedua anak itu saat bermain gak akan ada kejadian aneh-aneh. Nah, saat pergantian waktu dari kelas ke fullday biasanya, guru-guru sibuk nah saat gak ada pengawasan itulah, ada saja kejadian.

Wali kelas Alzam sudah berulang kali minta maaf, SMS, menulis di buku penghubung bahkan sampai menelpon meminta maaf. Akupun rasanya makin gerah, gak tenang. Memang anak-anak seusia 3-4 tahun masih belajar beremosi. Tapi menurut laporan dari pihak sekolah, Alzam bukan anak yang usil. Hanya saja, temannya itu  yang memang belum dapat mengendalikan emosi.

Berbagai macam pengertian sudah diberikan ke teman Alzam itu, akupun juga turut menasehati saat ketemu di mobil jemputan sekolah. Yaahhh,,,tapi ya namanya anak balita. Entah ngerti entah enggak.

Sementara itu, merupakan PR besar bagi kami agar Alzam bisa lebih kuat untuk menghindar dan mempertahankan diri. Bahkan wali kelasnya mengajari Alzam untuk membalas temannya agar kapok. Yah, tapi Alzam memang gak ada keinginan untuk membalas. Alzam kurang terbuka emosinya, kurang tersalurkan dan terlihat memendam emosi saat di sekolah namun baru tumpah di rumah. Saat sepulang sekolah Alzam bikin keributan dengan adiknya, rewel dengan permintaan tidak jelas, serba salah dan nangis yang tidak wajar. Iya, itulah emosi yang ia pendam di sekolah dan baru tumpah ruah di rumah saat ketemu Umminya.

Hal ini sudah aku sampaikan ke wali kelas dengan hati-hati. Aku ingin agar hal ini tidak berkelanjutan lagi, luka di wajah cukup sering dan banyak belum lagi tentang psikisnya.

Solusi sementara dari pihak sekolah, setiap peralihan jam sekolah ke fullday, Alzam dan temannya diusahakan terpisah dipantau dan diawasi oleh masing-masing guru. Jika masih berlanjut kejadian cakar mencakar ini, ke depannya mereka akan dipisah kelas untuk tahun ajaran baru.

Guru-guru menyimpulkan Alzam terlalu baik dan pendiam di sekolah. Sementara itu temannya itu memang anak yang super aktif dan mungkin merasa penasaran dengan Alzam.

Nah, karena aku merasa hal ini cukup serius bagi Alzam, terutama tentang konsep dan pertahanan dirinya. Aku langsung berdiskusi panjang lebar tentang Alzam ke suami. Akhirnya, kami sepakat agar setiap kali kami berada di rumah mengajak Alzam untuk terlibat aktivitas fisik dan emosi lebih banyak lagi. Salah satunya, olahraga rutin tiap seminggu sekali. Alzam dan adiknya kami ajak, Alzam dengan sepedanya tentu saja.

Selama longwiken tanggal 25-27 Maret kami banyak lakukan kegiatan fisik dan mengajak Alzam untuk bermain dengan anak-anak sebaya di komplek rumah. Alzam juga seharian bermain dengan temannya di rumah. Alzam kelihatan happy karena emosi bisa tersalurkan. Selama ini memang ku akui, kendala rumah tangga dua kota dengan kedua orang tua bekerja adalah saat hari libur kerja tiba, adalah hari untuk rehat, beberes rumah, belanja dst. Sehingga saat libur, anak-anak yang mengikuti ritme kegiatan orang tua. Biasanya hari libur Alzam jarang di rumah, sehingga jarang bermain dengan tetangga. Padahal itu jadi sarana tersendiri bagi anak untuk lebih belajar bersosial selain di sekolah.

Hari Senin, tanggal 28 Maret aku mendapatkan laporan dari sekolah Alzam bahwa Alzam sangat aktif sepanjang hari berbeda dengan biasanya.

Aku rasa, mungkin treatment untuk melibatkan orang tua aktivitas fisik seperti olahraga bersama, bermain permainan menantang bersama menjadi penguat konsep dirinya. Emosinya tersalurkan dengan baik.

Bermain dengan teman pun harus dibiasakan dengan teman sebaya komplek rumah. Setelah bermain dengan teman sebaya di komplek rumah, Alzam terlihat lebih percaya diri karena mempunyai tambahan teman lagi. Alzam terlihat lebih bersemangat dan moodnya jadi oke ga rewel lagi.

Iyah, bagi kami sebagai orang tua memang belajar dan terus belajar gimana menghadapai tiap anak. Karena memang unik banget tiap anak, bagi Alzam yang pemalu dan pendiam mengajaknya turut serta kegiatan dan permainan fisik yang menantang membuat moodnya oke dan lebih percaya diri. Begitu juga dengan kehadiran teman sepermainan di dekat rumahnya, membuatnya lebih berarti karena dia mempunyai teman.

Jadi, kalo wiken…kami harus ngerem alokasi waktu untuk kegiatan di luar rumah (yang biasanya numpuk kalo wiken)..Anak-anak butuh waktu bermain dengan temannya di komplek dan juga butuh bermain dengan keterlibatan emosi orang tuanya.

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s