Banyak Anak Banyak Rejeki

Aza terlahir sebagai anak kedua, anak pertama perempuan, lahir di usia kandungan 40weeks + 1 day, lebih cranky dan sensitif, ga bisa dibentak sedikit pun, tomboy dan pecicilan.

Banyak hal yang kami pelajari dari dia, walau dia terlahir sebagai anak ke-2. Karena banyak hal yang baru kami jumpai pertama kali di dirinya.

Ternyata memang benar ya karena setiap anak itu unik, untuk anak setelah anak pertama tetep merasa jadi orang tua baru lagi. Treatment tiap anak berbeda soalnya. Sifatnya beda jadi tetep terkaget-kaget , tertawa geli dan takjub.

Tapi yang jelas sih, sebagai ortu ga lagi gugup, panik dan seperfect anak pertama dulu yang kayaknya sebisa mungkin ‘sempurna’. Anak ke-2 kami sebagai ortu cenderung santai dan slow dan lebih tenang.

Suatu hari aku pernah merasa kasihan juga sama Aza, ga full perhatian, beda dengan kakaknya dulu. Anak pertama memang membawa kesan pertama bagi orang tua, sehingga semuanya serba baru jadi lebih antusias.

Iya sih, dan aku mengakui hal itu, perhatian kami udah terbagi. Salah satu harus mengalah untuk tidak didahulukan. Lalu kemudian aku teringat perkataan psikolog di sekolahnya Alzam beliau bilang anak zaman sekarang terbiasa terlalu lama jadi anak tunggal ataupun punya saudara cukup satu. Akibatnya, full perhatian itu ga selalu bagus lho.

Anak dengan memiliki banyak saudara, terutama yang jaraknya rapat lebih peka, lebih cepat mandiri dan lebih matang beremosi. Mereka belajar bersabar dan mengalah sejak dini, belajar mengelola emosi, belajar berbagi dan belajar bersosialisasi lebih cepat.

Konon, kata psikolog tersebut hal itu yang menyebabkan anak-anak zaman sekarang matang fisik tapi ga matang psikis. Mereka terbiasa jadi full perhatian sehingga cepat kecewa dan putus asa saat ada hal yang ga sesuai keinginan.

Beda kan ya produk parenting zaman dulu dan zaman masa kini. Orang tua kita terbiasa dibesarkan dengan jarak anak rapat dan banyak. Sejak kecil terbiasa mengasuh adik-adiknya dan membantu pekerjaan rumah tangga ataupun ikut mencari uang.

Woh! Sama banget lah dengan teori montessori atau apapun itu teori parenting zaman sekarang yg lagi hits. Sama juga dengan para pakar home schooling ataupun home education yang sedang gencar-gencarnya menyebarkan nilai-nilai edukasi. Bahwa ada hal yang ga terbeli dengan sekolah.

Dengan melakukan pekerjaan rumah tangga: mencuci, mengepel, memasak dsb anak belajar banyak: ketelitian, kesabaran, kerja keras, dsb.

Pembelajaran akan makna hidup dan ketrampilan hidup. Nyatanya banyak orang yang besar terlahir di keluarga penuh keterbatasan , sehingga membuat mereka pantang mundur dan tekad luar biasa.

Sehingga saat kadang aku merasa sangat penuh keterbatasan membersamai mereka, merasa banyak kurangnya baik waktu dan tenaga untuk mereka atau bahkan merasa sangat kurang akan banyak dan banyak hal lainnya karena jarak mereka yang dekat.

Aku teringat justru di usia yang sama dengan Alzam ,Aza belajar banyak. Aza belajar bersabar dan berbagi sejak dini. Aza belajar mengelola emosi, membentuk pertahanan diri dari usilan kakaknya, cepat mandiri dan lebih percaya diri dibandingkan usia yang sama dengan kakaknya.

Dan saat kulihat Alzam, di usianya yang belum dua tahun sudah mau berbagi dengan adiknya akan segala yang tadinya melekat padanya: umminya, abinya, bibi, mainan, ASI, tempat tidur dan semuanya. Alzam yang sangat sayang dan mengerti tentang kebutuhan adiknya. Alzam yang rela melakukan beberapa hal sendiri tanpa bantuan orang dewasa , saat adiknya perlu didahulukan kebutuhannya.

Hal-hal ini ga akan didapatkan dari kurikulum manapun. Hal-hal ini adalah nilai hidup yang dipelajari alami sebagai bentuk adaptasi mereka mempunyai saudara.

Mungkin dibalik keajaiban banyak anak banyak rejeki adalah:

Banyak saudara bikin anak makin punya nilai daya juang, bikin anak punya banyak modal untuk menjemput rejekinya saat dewasa nanti, baik rejeki dunia ataupun akhirat.

DSC_0213

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s