Apa yang dijumpai saat membuka pintu rumah?

Kadang beneran berpikir ini makin hari makin jelas tanda-tanda datang kiamat. Semua fenomena alam yg berubah drastis di dunia ini,termasuk begitu cepat bergulirnya waktu. Dua puluh empat jam itu express ga cukup melakukan semua hal.

Hingga rasanya bingung,makin kesini kok makin tenggelam dalam amanah di kantor. Makin sering pulang larut dan makin sedikit porsi perhatian ke anak-anak seiring juga dengan terasanya kekuatan fisik yang mudah lelah.

Seperti malam ini,saat alzam #39bulan yang aktivitasnya outbond di sekolah sehingga sampai rumah minta perhatian krn lapar dan lelah. Sementara aza #18bulan yang masih recovery dari sakitnya minta nempel nyusu dan ini itu. Aku? Aku baru pulang dari luar kota karena tugas kantor.

Aku langsung bergegas mandi bebersih diri,kebayang banyak kotoran menempel di pakaian ini sehabis perjalanan dari luar kota dan macet-macetan naik motor ke rumah. Sehabis mandi,sholat dan semuanya langsung nyerbu.
Bibi melanjutkan curhatnya yang pembukaannya sudah disampaikan saat pertama kali kubuka pintu rumah, alzam biasanya langsung minta disuapin, ahh tapi petang ini dia rewel minta bobo dan susu,aza pun sama ga kalah cari perhatian ‘nenen…bobo…nenen..’ dia merajuk manja pake mimik muka sedih.

Aku beranjak ke kamar tidur,bibi terus bercerita dengan berdiri di pintu kamar,lalu alzam mulai merasa terganggu merengek sambil ngantuk,aza kususuin sambil kudengarkan cerita bibi. Padahal badan ini juga pegel dan juga laper.

Bibi selesai cerita karena alzam secara ga langsung ‘ngusir’ bibi dengan rewelnya minta perhatianku. Sementara aku sambil nyusuin AZA dengerin bibi curhat sambil nenangin alzam rewel.bibi ngalah..

Belum selesai,aza usil nyakar alzam,alzam nangis menjadi lalu muntah…aaaakkk lalu aku membersihkan muntahnya dan mengganti bajunya.
Lalu aza gantian merasa ditinggal ga diperhatikan minta nenen rewel…

Lalu intinya,anak-anak tidur dengan sukses. Emak tepar anak-anak tepar, sayup-sayup terdengar radio bibi yang menemani bibi setrika malam.

Iyahhh nano-nanon.
Kadangan aku lepas emosi
‘alzam mau apaaa….alzammmm…ummi juga laper, ummi juga capek…’ hihihi yaampun umminya juga ngeluh.

Ahhhh…yah begitulah suasana tiap malam.

Tapi yang paling deg-degan itu adalah saat buka pintu rumah pertama kali. Karena itu menunjukkan prolog yang akan kita ikuti kisahnya di malam itu.

Hal yang sering terjadi saat pertama kali masuk ke rumah saat pulang kantor adalah: bibi yang langsung cerita panjang kali lebar kali tinggi tentang kejadian hari ini,alzam yang kangen disuapin makan,ditemani pipis (kenapa pas bgt jam aku pulang jam dia pipis), aza yang rengek pengen gendong dipeluk.

Dan kalo situasinya lagi gak normal, saat pertama kali kubuka pintu rumah adalah saat yang teramat ingin ku’skip’. Dalam kondisi lelah terutama,karena apa yang kuhadapi saat pertama kali buka pintu rumah bisa adegan teriak-teriak,marah dsb yang biasanya karena ulah si sulung yang hobi aktivitas fisik (manjat,lompat etc) atau adegan berantem kecil si adik dan kakak yang mana pengasuh kelabakan.

Lalu beberapa berujung tentang bibi yang merasa tak sanggup akan semua ini. Lalu di tengah kelelahan melanda sehabis pulang Kantor macet-macetan itu (tahulah bandung kalo macet gimana) aku harus nyiapin kuping,hati utk dengar semua hal dari pengasuh anak-anak.

Oh my,belum lagi saat abinya anak-anak yang hampir selalu menghubungi di jam-jam tersebut kadang dgn beberapa PR pikiran yang perlu dibicarakan sehingga kadang kalo ngerasa ga bisa handle kubilang ‘abi aja ya…’.

Iya begitu lho konsekuensi dari Long DISTANCE Married..
Dengan tanggung jawab rumah dan anak-anak menempel di pundak sang ibu.

Iya kebayang,semua beban berasa bertumpu di pundak ini: anak-anak termasuk menu makannya yg harus disiapkan belanjaannya tiap hari, keperluan sekolah alzam yang kadang dadakan dikasih tahu, urusan belanja domestik rumah, dunia tukang, menjadi tempat curhatnya pengasuh (kemana lagi pengasuh mau curhat), menejemen pengasuh, tentang kegiatan sosial di komplek macam arisan dan bla bla yang kadang ada konflik antar tetangga,dann amanah di kantor yang heii..laki dan perempuan sama aja dibagi rata bebannya di kantor.

Jadi bapak-bapak yg di sinetron kalo pulang ke rumah karena stress urusan kantor marah-marah dsb. Nah ibu-ibu yang ada secapek dan setertekan apapun keadaan di kantor kalo pulang ke rumah lebih super lagi menyiapkan hati dan kuping ohiya juga sabar yang lapang karena ibu adalah center kehidupan di rumah.

Saat ibu pulang,semuanya nyerbu,cerita,cari perhatian dan menghidupkan rumah.

Dan aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan ini,walau harus jam 2 atau jam 3 bangun karena banyak hal yg harus dikerjakan. Walo karena anak sakit beberapa hari begadang dan esoknya harus kerja keluar kota. Bapak-bapak bisa gitu? Bisa mungkin tapi ga jamin masih stabil emosinya. Jaminan deh,ibu-ibu lebih punya power utk melakukan banyak hal.

Dan power utamanya itu bersumber dari: Alloh..

Itulah mengapa bangun jam 2 atau jam 3 dini hari selain menyiapkan keperluan anak esok harinya adalah mengisi energi dengan cerita semua ke Dia.

Oh Alloh,semoga aku bisa menjaga amanah ini dengan sebaiknya. Semoga aku tidak meninggalkan surga di rumahku ini untuk hal yang tak berarti. Semoga pengabdianku untuk negara ini menjadi amalan unggulanku yang dapat menjadi wasilahmu menjaga kami sekeluarga dari neraka dunia dan neraka akhirat.

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s