Kapan anak siap bersekolah?

Zaman sekarang semakin banyak ibu-ibu berprofesi sebagai wanita bekerja. Hal ini berdampak pada banyak hal. Diantaranya adalah maraknya anak-anak yang disekolahkan pada usia dini. Makin maraknya daycare dan sekolah anak dini fullday menunjukkan bahwa kebutuhan akan daycare dan sekolah dini cukup tinggi di kota-kota besar.

Nah buat aku yang bekerja, menitipkan anak pada daycare , menyekolahkan anak di sekolah usia dini fullday adalah salah satu pilihanku. Pada mulanya memang ada rasa kasihan melihat anak batita masih kecil digotong-gotong ke daycare atau ke sekolah di pagi hari lalu dijemput sore atau bahkan saat hari mulai larut. Ga semua keluarga diberikan rejeki berupa asisten rumah yang bisa dipercaya mengasuh dan mendidik anak selama orang tua tidak berada di rumah. Daycare atau sekolah usia dini menjadi salah satu sarana menitipkan anak sekaligus mendidik dan menanamkan nilai-nilai.

Tahun ini Alzam genap berusia tiga tahun. Setelah sekian lama Alzam sempat berpisah dariku karena diasuh oleh neneknya. Akhirnya Alzam per September 2015 ini back to home! Akhirnya gak lagi tiga dapur seperti yang pernah kuceritakan sebelum-sebelumnya. Alzam kembali ke rumah lagi setelah kami menemukan sekolah anak usia dini fullday di dekat rumah plus fasilitas antar jemputnya. Sehubungan dengan jam pegri kantor dan jam pulang kantor yang kadang semena-mena alias berangkat bisa terlalu pagi atau pulang sampai rumah malam aku agak ragu menyekolahkan ataupun menitipkan Alzam tanpa ada fasilitas antar jemput.

 

Kuperhatikan memang Alzam butuh penyaluran energy, dia udah ga bisa diam duduk manis di rumah. Keingintahuannya besar akan banyak hal. Dia sudah mulai senang bermain dengan teman sebaya, mulai bisa dan mengerti akan konsekuensi dan komitmen. Hal inilah yang penting diperhatikan apakah anak siap sekolah atau tidak. Karena walaupun sekolah usia dini hanyalah bermain tetap saja ada komitmen dan kosekuensi. Contoh kecil: bangun pagi hari, mandi pagi hari, berangkat sekolah. Ga bisa tawar-menawar lagi. Bagi sebagian anak yang belum siap dengan komitmen pada awalnya akan berat.

 

Memang ya golden age itu benar-benar otak anak kayak sponge, mudah menyerap apa saja. Jadi menurutku memberikan stimulasi anak dari usia dini memang sudah sangat dianjurkan. Bisa lewat sekolah ataupun di rumah. Nah, gimana kalo ada pendapat gak usah menyekolahkan anak di usia dini nanti cepat bosan!

Pada prinsipnya ilmu itu sangat luas dan luas sekali tak terhingga. Apabila anak sudah tertarik akan suatu hal, sudah mengetahui minat dan bakatnya. Anak akan makin terus belajar dan belajar karena keingintahuannya. Karena ilmu itu sangat luas jadi gak akan merasa bosan gak akan pernah merasa kenyang. Bukankah kalau kita belajar malah makin merasa bodoh?

Pada dasarnya kesiapan anak sekolah berbeda-beda. Hanya orang tuanya yang lebih mengetahui akan kemampuan dan kesiapan anaknya. Dan pilihan tidak menyekolahkan anak pada sekolah formal juga bukan lagi hal yang aneh. Sudah banyak komunitas Homeschooling di Indonesia. Namun demikian, buatku yang bekerja dan mana pula abinya anak-anak di luar kota hal itu bukanlah pilihan. Walau begitu setiap saat kami bertemu anak-anak setiap saat itu pulalah kami ‘homeschooling’. Karena pendidikan yang utama itu ada pada pendidikan dalam rumah. Berawal dari rumah lah anak tumbuh dan besar.

 

 

 

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s