Tiga Dapur Dua Kota

Akhirnya,bisa juga masuk ke aplikasi wordpress di Android, setelah gagal password,sampai nyerah mau ganti password dan ternyata bisa ga perlu ganti karena sebenarnya aku typo nulis password nya!

Sejak pake android sejak itulah males eyke apdet blog. Padahal awal mula pake android ya pas lahiran anak kedua.

Hellow,aza…im sorry..di sini jarang bgt ada tulisan ttg kamu.

Dan mari kita niatkan nulis,kali ini kuhidupkan lagi budaya nulis malem menjelang masak MPASI..iyey!!!

Jam 2.30 sekarang, waktunya masak jam 3, jadi ada spare time buat apdet blog.

~~~~

Bibi apik udah 2 tahun membersamai,oh well atas semua jasa-jasanya ngasuh alzam sampai aza,semoga Alloh memberikan barokah atas semua urusannya.

Pasang surut manajemen pengasuh anak itu memang perlu seni. Apalagi bibi usianya sepantaran orang tuaku. Jadi,posisiku jelas posisi sebagai anak di rumah. Komunikasi dibikin seenak mungkin baginya. Artinya,ga ada nada suruh,ga ada permintaan ini itu dariku,hanya ngobrol biasa. Dan ini juga terkait dengan memang kerjaan beliau yang emanh beres dan apik.

Sehubungan dengan alzam up two year old yang masih memerlukan bantuan pengasuh sementara adiknya Aza juga masih under one year old. Maka,sejak kehadiran adiknya qta udah menyiapkan rencana asisten tambahan. Yang mana pada perjalanannya, hal itu sulit terwujud karena banyak hal.

Sehubungan dengan ortu yang masih aktif di kantor dan adik bontotku masih jadi pelajar SMP yang mana butuh perhatian juga,walopun sekota tapi ortu nyaris jarang ketemu.

Saat cuti bersalin habis dan aku diharuskan ngantor, Alzam akhirnya ikut daycare. Klo inget masa-masa itu masih inget Capeknya eyke harus gendong Alzam di motor anter jemput. Riweuhnya pagi-pagi subuh nanganin dua bocah,mandiin Alzam,masakin bekal daycare lauk pauknya ga disediain,buah juga dibekalin. Dan bisa makin heboh kalo Alzam yg saat itu 26 bulan minta pup,atau main-main lama yang mana bikin ngaret jam berangkat ke daycare yang artinya terancam telat ngantor. Belum ditambah Aza baby yang rengek-rengek. Sementara bibi asyik cuci baju n beresin kerjaannya di pagi hari sebelum ngasuh Aza baby seharian. Beginilah,situasi rumah ibu bekerja yang jauh-jauhan ga seatap sama suaminya.

Hari-hari daycare bertahan kurang lebih empat sampai lima bulan. Karena akhirnya, dengan berbagai pertimbangan ibuku memutuskan mengasuh Alzam dengan segala keterbatasannya. Bayangkan,ortu kita yang sudah terbatas tenaga,waktu,dan pikirannya masih mau merelakan pengorbanan untuk ngasuh cucunya. Aku tahu ibu sangat sibuk kegiatan sehari-harinya pun disertai dengan keluhan fisik. Ibu,bisakah aku membalas semua hal yang kau berikan..

Hari-hari dengan posisi Alzam bersama ortuku di rumah ortu,pada awalnya membuat nelangsa. Sedih tak terperi. Nangis,sering banget.
Hingga akhirnya,kusadari bahwa smg ini yang terbaik buat Alzam karena sejauh ini Alzam belum menemukan daycare yang cocok. Dan akupun,belum sreg dengan daycarenya. Cerita tentang daycare ini akan kutulis berikutnya.

Sudah hampir enam bulan Alzam di rumah nenek. Wiken kami bertemu. Artinya juga wiken aku baru ketemu suamiku dan anak sulungku.

Kan ortu sama aku sekota. Kenapa ga tiap hari aja anterin anak ke rumah ortu? Hellow..bandung macet gile. Itu berarti aku anterin anak pagi banget dan jemput bisa sampai rumah jam 8 malam. Masalahnya rumahku n ortu rata2 perjalanan 30 menit dan belum perjalanan ke kantorku. Dan  ada Aza baby juga yang butuh kehadiranku.Bibi juga terbatas fisiknya,jadi dia ga bisa full ngasuh Aza sekaligus ngurus rumah.

Mau pindah ke rumah ortu,tapi sikon ga memungkinkan. Ahh pokoknya,masa sedih itu akhirnya bisa terlewati dengan berlapang dada dan bahagia saat Alzam happy dan berkembang baik di rumah ortu.

Ortuku akhirnya mendapatkan bantuan dalam pengasuhan Alzam. Awalnya,Alzam itu sempat dibawa ke kantor ortuku,sempat dibawa ke luar kota oleh ortuju. Akhirnya ada ART,pertolongan saat ortu ga bisa full di rumah.kupanggil dia teteh. Dia udah bekerja empat bulan belakangan.

Usia teteh masih belasan tahun. Awalnya kami ragu,namun sejalannya waktu berucap syukur. Alzam punya teman sepermainan. Karena tetehnya juga masih dunia main. Alzam happy dengan teteh. Teteh juga baik,sholehah.

Teteh juga membantu sebagian urusan domestik rumah ibuku. Karena,untuk hal-hal tertentu seperti cuci baju dan masak ibuku ga ingin dibantu. Padahal itu yang berat bagi banyak orang kan..

Rasanya pengasuhan anak ga sama diri kita gimana?
Ahh..nano-nano sekali. Nyesel? Maybe..
Galau? Pasti.. Tapi,atas semua ini..aku ingin memberikan yang terbaik terlepas dari Senin sampai Jumat yang aku ngantor.

Aza yang bulan depan setahun,Alzam yang Agustus tahun ini tiga tahun. Aku tahu,aku telah melalui usia kalian dengan begitu cepat dengan terbatasnya kondisi dan situasi.

Berhubung ada tiga dapur,suami di jakarta,sulung di rumah ortu,aku di sini bersama Aza n bibi. Rasanya wiken jadi serba terburu. Wiken ga cukup buat ngurusin semuanya.

Alhamdulillah, masih dalam lindungan dan penjagaan Darinya,akhirnya.. Hanya doa dan doa untuk semua urusan kita. Semoga barokah dan barokah yang mengisi hari-hari kita. Kelak,semua urusan dunia akan menjadi saksi di hari nanti.

Semoga aku bisa mempertanggungjawabkan semua amanahku dgn sbaik2nya di hadapanNya kelak.

Tak ada hal yang manis tanpa perjuangan..

Yak,dah jam 3 eyke mau masak dulu buat Aza yang udah 11,5 bulan. Masak nasi di slowccoker n nyiapin menu MPASInya. Sekalian doing manything…

Ayooo semangat ^^

5 thoughts on “Tiga Dapur Dua Kota

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s