Kisah Melahirkan Anak Kedua

Alhamdulillah …
aku diberi kesempatan lagi untuk dapat melahirkan normal spontan.

Untuk persalinan anak ke-2 ini, rasanya teramat cepat, tapi jadinya
rasa nyerinya lebih-lebih dibanding anak pertama. Kayak lari sprint
cepat plus ngos-ngosan.

Beginih ceritanyah..
Pada awalnya saat memasuki minggu ke 38 aku menjumpai tetesan darah
dari jalan lahir saat ke kamar mandi. Tanpa mulas, tapi berhubung ini
anak kedua aku jadi khawatir siapa Tahu ini gejala persalinan. Konon
katanya, untuk anak ke-2 lebih cepat kan ya. Dan lagipula anak
pertamaku: Alzamboy lahir di usia memasuki 38 minggu.

Segera kuberanjak ke bidan, kata bidan bukaan 1. Tapi berhubung ga
mulas ya pulang lagi. Padahal udah dipake jalan-jalan, nyalon biar
rilex dsb. Yahh, namanyaa juga belum waktunya lahiran.

Pembukaan 1 yang ga nambah-nambah selama beberapa Hari bikin tegang
Dan bertanya-tanya, galau. Galau khas bumil..hihihi.

Lah, anak pertama aja dari pembukaan 1 ke lengkap ga sampe 24 jam kok.Kok anak kedua lambreta pembukaannya.

Dan, ga cuma aku yang galau, keluarga juga gitu. Kegalauan ini
ternyata membuatku lebih semangat untuk belajar gentle birth. Juga
membuatku ekstra ikhtiar.

Exercise olahraganya kulakuin berkali lipat. Jalan pagi 40-60menit,
jalan sore 40-60 menit. Senam hamil, birthing ball, squating.
Sampe-sampe aku merasa sehat bugar banget. Lah, pas ga hamil aja ga
segininya (jarang olahraga).
Pas hamil malah maniak jalan kaki cepat. Ngerasa sehat banget deh di hamil tua. Nyaris ga ada keluhan fisik.

Kehamilan kali ini memang berbeda. Fisikku ga payah gimana gitu.
Justru ekstra tenaga, ga ada nyeri-Kram-pegel dsb. Makanya mau jalan
kaki pagi-sore kemana aja diembat.

Sungguh, pembukaan 1 selama berhari-Hari bikin galau. Okeh, sampe aku
mastiin ke dokterku, kata dia semua oke, tenang aja, ga ada masalah. Lagian emang belum masuk due datenya.

Dan, akhirnya 40 minggu sudah usia kehamilan. Makin menggalau, aku cek kembali ke dokterku. Dokter Widyastuti, dokter favoritku yang sangat pro gentle birth!

Kata beliau, kalo 3 Hari ke depan belum lahir diminta control kembali. Soalnya air ketuban memang udah minim, plasenta juga udah ga optimal fungsinya. Tapi beliau mastiin ‘ahhh..tar lagi lahiran kayaknya sih, tenang aja.’

Sementara itu, aku juga konsultasi dengan bidan (by bbm). Bidan sih
tetep nyaranin jalan cepet semampunya (durasi 1 jam) biar kepala bayi makin turun. Padahal ya itu udah kulakuin. Gue itu udah jalan kaki sampe gempor!

Makin galau, kenapa belum lahiran
ajah. Soalnya anak pertama jalan kakinya ga seextra sekarang, ga sampe senam hamil yang gmn gitu, ga sampe pake birthing ball..wekekek tapi kok cepet proses lahirannya.

Kegalauan itu, membawaku makin mengenal gentle birth. Membawaku makin menyerahkan semua urusan ini padaNya. Rencana melahirkan water birth malah makin menjadi. Alhamdulillah di Bandung ada bidan yang bisa melayani persalinan di air. Cihuy…

Lalu…sepulang dari dokter, kontraksi palsu yang sering kurasakan bertambah intens. Wah, tanda-tanda nih. Tiap kontraksi kupantau frekuensi serta durasinya. Tapi berakhir kecewa saat kontraksinya menghilang. Fuhh

Esoknya, 40minggu + 1 Hari saat malam hari berasa makin bertambah intens kontraksinya.
Tiap 10 menit sekali, tapi ga sakit yang gimana-gimana gitu. Ahhh,
mungkin kontraksi palsu. Eh pas malam itu juga ortuku datang. Bertanya gimana perkembangan tanda-tanda persalinan?
Aku bilang sih, udah per 10 menit sekali. Ibuku udah khawatir. YAudin
deh, pukul 21.00 dianter bapakku ke bidan dekat Rumah. Pembukaan 1
longgar. Asisten bidan sih dengan santainya bilang, “Kalo udah ada darah keluar banyak baru kesini aja ya, sekarang mah pulang aja gapapa.”

Weew, ada kemajuan. Setelah selama ini pembukaan 1 kuncup/sempit
selama 2 minggu wkwkwk. Setelah dicek bidan, aku pulang ke Rumah. Ortu juga pulang ke rumahnya dengan lebih tenang. Dalam hati, sebenarnya aku sudah ada feeling besok akan melahirkan.Sengaja ku ga mengatakan pada orangtuaku tentang kontraksiku yang mencurigakan ini, bisa heboh Dan disuruh nginap di bidan.

Sementara itu, aku menghubungi bidan yang melayani water birth. Aduhh mak, beliau lagi melayani homebirth di lain tempat. Jika aku
melahirkan esok Hari nampaknya ga bisa.

Ahh, yasudahlah..melahirkan kan taqdir. Kuberdoa semoga dihindarkan
dari taqdir buruk, ditetapkan taqdir yang baik bagi anakku. Semoga
selamat-sehat-barokah persalinanku.

Persalinan anak ke-2 kali ini memang sengaja kupilih bersalin di
bidan. Aku agak kecewa lahiran anak pertama di RSB dengan jaitan yang
full sampe belakang huhuhu. Siapa tahu di bidan lebih minim jahitan.
Dan, aku pengen lebih gentle.

Semalaman di Rumah, aku mencoba tidur. Tapi terbangun selalu karena
mulas. Alzam, anak sulungku yang berusia 20 bulan entah mengapa malam itu gampang banget dibawa bibi bobo malem bareng. Kami khawatir malam ini atau esok pagi melahirkan , jadi Alzam dihandle bibi dulu.

Aku udah curiga, liat gelagat Alzam yang dengan gampangnya bobo ke
kamar bibi. Alzam udah ada feeling kayaknya.

Malam itu aku mencoba tidur pulas, untuk mengumpulkan tenaga jika
memang besok melahirkan. Tapi susah!

“Mas..kayaknya tar lagi lahiran deh, tolong pake stopwatch mantau kontraksiku..” Ujarku.
Ternyata kontraksi memang sudah per 6 menit sekali, saat itu pukul 1 malam.

Aku juga sibuk bbm bidan yang dekat rumah mengabarkan kondisiku. Tapi kucoba bertahan. Pokoknya kalo belum sampai keluar tanda persalinan: darah-lendir-ketuban, aku akan bertahan di rumah. Lagipula klinik bidan yang kutuju cukup dekat ga sampai 10 menit perjalanan.

Finally, pukul 3 dini hari aku merasa ada yang merembes keluar dari jalan lahir. Jujur, agak panik. Aku takut banyak bergerak, khawatir itu air ketuban yang rembes. Aku coba tidur kembali, karena kontraksi menurutku masih bisa ditolerir.

Akhirnya saat pukul 4 pagi, kuputuskan menelpon taxi. Oyeah, rasanya makin banyak yang rembes keluar, dan saat kucek ternyata lendir bercampur darah. Ini saatnya ke bidan!

Pukul 5 pagi, sampailah di bidan. Dicek VT, pembukaan menuju 4 dengan jalan lahir tipis. Sebentar lagi kata bidan. Bidan memberikanku huknah, yaitu memasukkan cairan gliserin ke dalam rektum untuk merangsang buang air besar. Saat VT, bidan udah bisa menebak aku berhari-hari belum BAB , jadi kepala bayi tertahan ga turun-turun.

Setelah BAB, kontraksi makin kuat, karena kepala bayi makin turun! Oh No, rasa-rasanya melahirkan anak pertama yang kemarin ga semules ini deh. Aku mencoba mengikuti irama tubuh ini. Segala posisi kucoba untuk meredakan mulas-nyeri ini. Nungging-sujud-duduk-bebaring mana saja yang buatku nyaman. Bidan menganjurkanku untuk jalan kaki agar cepat bayi turun. Baru saja hendak bangkit untuk berjalan, tiba-tiba aku muntah!

That’s a sign!
Aku yakin ini bukaan menuju lengkap!
Ini dejavu!
Sama seperti melahirkan Alzamboy , saat menuju bukaan lengkap aku muntah menguras seluruh isi perut!

Bidan pun berkata “kalo udah muntah, sebentar lagi lahiran nih..ayo naik ke kasur.” Katanya mengiringku naik ke kasur persalinan.

Dicek VT kembali, bukaan 8!
Alhamdulillah.
Tiba-tiba bidan bilang bahwa sudah bukaan lengkap dan boleh mengejan. Saat itu pukul 6 pagi.

Ups, tapi..bidan menahanku agar jangan mengejan. “Tunggu 3 sampai 4 kontraksi lagi, baru kamu boleh ngejan ya..biar bayinya turun sendiri, jadi sedikit yang robek.”
“Kepalanya udah keliatan tuh, banyak rambutnya, sering makan kacang ijo ya?” Tanya bidan.

Mak! Udah pembukaan lengkap kepala bayi udah keliatan, tapi ga boleh ngejan itu rasanya, aahhh..sudahlah.

memang sebenarnya, bayi itu bisa lahir sendiri tanpa kita ngejan.

Akhirnya, 30 menit lebih aku menahan nyeri pembukaan lengkap ini. Di jeda antar kontraksi aku malah ngobrol sama bidan, oiya ada 3 bidan yang membantu. Bidan utama dan 2 orang asistennya. Saat jeda kontraksi inilah, aku memfix-kan tentang IMD. Aku minta setelah bayi keluar langsung didekap ke dadaku. Karena, sebelumnya aku memang ga berencana lahiran di sini (tadinya kan pengen water birth) jadinya banyak hal yang belum aku obrolin sama bidan di sini.

Akhirnya, saat itu datang.
“Nah sekarang boleh ngejan..” Kata bidan.

Berkali-kali ngejan..akhirnya ada badan hangat yang kurasa keluar dari jalan lahir. Dia lahir!

“Allahu akbar..” Pekikku saat mengejan terakhir. Alhamdulillah Ya Allah..

Kulirik jam dinding, pukul 7 pagi, hari Ahad🙂 4 mei 2014.

12 thoughts on “Kisah Melahirkan Anak Kedua

  1. Mulki Naz says:

    Assalamualaikum…
    Teh, tulisannya inspiring banget🙂
    Istri saya sedang hamil pertama, sekarang di usia 29 minggu. Mau tanya, waterbirth di Bdg di mana? Kita sama dr. Widiyastuti juga, tapi di Galenia udah ga ada waterbirth.. Boleh minta infonya? Nuhuun

  2. sunrose1 says:

    Za emang hebat !!!
    Dulu pas aq hamil, masuk bulan ke 7 buat jalan aja sakit, ga tahu kenapa…
    Sampe bulan ke 9 posisi kepala bayi masih di atas ga mau muter T_T, akhirnya berakhir di ruang operasi.
    Nglahirin tanpa merasakan kontraksi, antara sedih dan senang, wkwkwk
    Btw, hebat banget ya bisa tetep tenang walau udah pecah ketuban #jempol

    • zarahsafeer says:

      Tiap kehamilan emang beda cerita..
      Alhamdulillah mbak apapun persalinannya sdh keitung jihadnya seorang ibu..
      Bener2 ya hamil melahirkan menyusui itu perjuangan awawawawa..

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s