Tiga Tahun

Tiga tahun bersamamu, rasanya aku belum begitu mengenalmu..

Aku berkali-kali takjub, kagum , tertegun..banyak hal yang menakjubkan dari dirimu.

Semakin hari terlewati bersamamu, semakin tahu tentang dirimu yang begitu mencintaiku dan anak-anak.

Berkali-kali aku tak bosan akan sikap hangatmu yang selalu membuatku luluh jika tengah sebal padamu.

Sebal, kesal sering sekali rasa itu mampir ya…hahaha..hanya karena hal sepele atau salah persepsi. Dimulai dari perbedaan cara komunikasi kita, sampai hal-hal perbedaan pandangan akan beberapa hal.

Yang jelas, Mas lebih sholeh daripadaku. Mas yang selalu membimbing, menguatkan, mengingatkan untuk istiqomah beribadah, berdakwah.. Tapi kadang aku juga lebih sholeh *ngaku-ngaku..ibaratnya mah kita saling ngingetin khan khan..

Problema itu selalu ada, seperti langit dengan awannya. Tapi, sikap Mas selalu mencuri hatiku hingga aku selalu lupa kalau lagi kesal sama Mas.

Entahlah, kadang ada air mata..
Merasa nelangsa, sedih, pedih, perih..hahaha..tapi itu yang makin bikinku belajar akan semua tentang bagaimana seharusnya mewujudkan cinta itu sebagai kata kerja.

Banyak hal yang kita mulai bersama, belajar dan saling mengajarkan.
Darimana aku lantas menerimamu kala itu..

Tiga tahun lalu..
Aku hanya mengikuti hati kecil saja untuk mengiyakan lamaranmu Mas.
Aku hanya ‘bersembunyi’ di balik orang tuaku. Semua yang ingin kusampaikan kuutarakan lewat ibuku. Kita belum mengenal satu sama lain. Hanya saja aku merasa Mas orang yang sholeh.

Sampai saat itu tiba, aku pun masih merasa biasa. Karena apapun bisa terjadi, mungkin saja sedetik sebelum ijab qabul terucap banyak hal yang bukan kuasa kita. Sepenuhnya inilah taqdir dariNya.

Lama ku telah lama berdoa, agar ditetapkan taqdir yang baik dan terhindar dari taqdir yang buruk. Sungguh kala itu aku tak tahu yang mana yang baik untukku dan untukmu. Hanya Alloh Yang Maha Mengetahui dan Berkehendak.Jika memang dirimu yang telah tertulis untukku, aku mohon agar jalannya dipermudah.

Tiga tahun sudah, aku menjalani hari-hari bersamamu. Baru saja ijab qabul terucap rasanya, lalu aku menjadi istrimu. Aku canggung dan bingung,kikuk, serba salah. Harusnya gimana sih jadi istri itu. Rasanya semua mata menatapku dan memrotesku. Yah, kuakui aku ga romantis sama sekali.

Bukan, bukan tentang romantis, nikah itu bukan tentang romansa cinta saja. Jauh-jauh hari kuberdoa, agar diriku pantas membersamai seorang lelaki hebat yang mengantarkan keluarga kami ke kesudahan yang baik di hari akhir nanti.

Pernikahan itu ladang amal. Pernikahan itu ladang kebaikan. Setiap peran keluarga saling berlomba berbuat yang terbaik.
Hal yang banyak kupelajari darimu lho Mas..
Semakin kumengenalmu semakin banyak belajar untuk semakin lebih baik.

Maaf, begitu banyak sikap,lisanku yang banyak kekurangan.
Maaf ya Mas..

Dan, baru saja aku mengenalmu. Belum cukup menyelami hatimu, dan ternyata sudah tiga tahun. Baru sebentar, masih panjang perjalanan. Tapi beneran deh, kok udah tiga tahun aja..cepet bener yach.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata’ayyun waj’alna lil muttaqina imamaa..

2 thoughts on “Tiga Tahun

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s