Anak Belajar Tiada Henti, Kitapun Juga..

Mempunyai anak , anak pertama..rasanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.

Ada harapan dan keinginan yang begitu besar, akan dirinya, masa depannya..

Kadang aku berpikir, sebenarnya aku yang egois, karena ingin dia begini begitu.Belum tentu dia ingin.

Padahal melihatnya tumbuh berkembang memberikanku pemahaman luar biasa tentang arti kesabaran.

Ya..dia mengajarkanku tentang sabar melewati proses , setahap demi setahap belajar, sedikit demi sedikit mengerti..

Sabar, semua ada tahapannya..
Semua ada waktunya.
Sabar, dan percayalah akan kemampuan potensi kita sebagai manusia yang diciptakanNya dengan sebaik-baiknya.

Saat jelang 3 bulan, Alzam belum menunjukkan kebolehannya tengkurap.

Aku sampai bilang ke Alzam dan kasih dia deadline, tar lagi kudu tengkurap sendiri ya..walau pada akhirnya dia tengkurap sesuai dengan milestone anak bayi pada umunya.

Yeah, itu berarti aku tak sabar.

Semua itu ada waktu dan prosesnya. Kita percaya pada kemampuan anak, bahwa dia bisa melewati pembelajaran ini.
Justru kekhawatiran yang berlebihanlah yang membuatnya merasa tak dipercaya dan tak percaya diri.

kadang kitalah yang berlebihan, membandingkan anak dengan yang lain. Walau memang kita coba tutupi rasa itu, hati kecil tak bisa mengelak bahwa rasa : anakku harus jadi yang terbaik, selalu ada.

Kadang, aku heran..untuk siapa? Untuk kesenangan ortu atau anaknya?

Padahal dia, tak peduli pada perkataan kata: seharusnya.
Seharusnya di usia segitu bisa begini. Dia belajar untuk dirinya sendiri, bukan untuk kebanggaan ortunya atau dibandingkan dengan yang lain.

Dia hanya sibuk belajar, dan akan melewati milestonenya bila dia sudah merasa siap.

Alzam kecenderungannya memang milestonenya normal,tidak terlambat pada umumnya rata-rata anak.
Itupun kadang aku merasa khawatir..

Misal, jelang 12 bulan..tapi jalannya masih sepatah,tertatih..udah gemes aja, ayo Zam..tar lagi 12 bulan..

Kenyataannya memang dia lancar jalan pas 12 bulan, udah ngacir kemana-mana heuu..Dan berarti kekhawatiranku itu tak berarti.

Aku kurang percaya pada kemampuannya. Padahal hanya dirinyalah yang Tahu waktu terbaiknya untuk mencapai milestone barunya. Tentunya setelah dia melatih Dan puas belajar rambatan yang jadi hobinya sejak 7.5 bulan..
Dia sudah bisa mengatur, koordinasi otot-otak , keseimbangan dsb.

Semua itu rangkaian proses belajar panjang sejak lahir.
Kadang, kitalah orang tuanya yang mengacaukannya dengan mengintervensinya dengan stimulasi belum cukup usia, mengintimidasinya dengan kalimat-kalimat ajakan, pertanyaan, misal: kenapa kok belum mau merangkak? Ayo dong nak..gini nih, liat Ibu ngerangkak, kamu ikutin yah..

Ga berlebihan memang, dan boleh-boleh aja..cuma kadangkala hal-hal seperti ini sebenarnya tak perlu dipaksakan. Jika memang kita mensupportnya, mari tunjukkan dukungan kita dengan memercayakan keputusan padanya: kapan dia akan melewati milestonenya. Tapi tentunya, kita juga dukung dengan stimulasi positif juga. Bukan cuma diem, cuek: ‘Toh..entar juga dia bisa sendiri..’

Justru, dia rindu kita, untuk mendukungnya dengan arahan-arahan yang memadai.

Aku pikir, kita dulu belajar membaca ga ujug-ujug bisa baca buku cerita.
Aku belajar dulu kenal huruf abjad, Lalu mengejanya, belajar membaca per kata-per kalimat. Itu pun ga mudah, butuh waktu hingga bisa lancar membaca.
Dan ada peran orang tua-guru pendidik yang mengajariku. BUkan: ujug-ujug aku bisa baca!

Kadang, aku merasa kurang menghargai Dan mengerti tentang proses pembelajaran anakku.

Sabar melihat prosesnya, bahwa belajar itu adalah hak tiap individu, adalah keinginan nurani, dan siapa pun tak berhak menghalangi..

*untuk diriku yang suka heboh ajaa liat anak ngacak-ngacak, wohaaaa,main tanah dsb. Lalu ku bilang: No ..No..No..

Ini si anak kecil yang lagi belajar tentang benda bernama: selang.

Dia nyabut selang air dari keran air di depan Rumah terus bawa kabur masuk ke dalam Rumah.

Dan aneka ria, yang kutahu..kamu sedang belajar banyak.

Tiap anak berbeda, dan kalo bukan kita sebagai orang tua bisa menerima perbedaan-perbedaan mereka? Siapa lagi yang bisa menerimanya?
Jika bukan kita yang mengajarkan percaya diri, pada siapa anak akan belajar?

Rengkuh dia, peluk dia..
Kehangatan kita , kata-kata positif kita, sikap kita adalah support terbaik baginya untuk selalu belajar.

Pada intinya, dia belajar untuk menjadi manusia mandiri.
Begitu kurasa, yang tadinya dia ga bisa kemana-mana kecuali digendong, ehh..wohh..udah ngilang aja dari pandangan, aduhh..udah jalan sampe pintu Rumah mau keluar sendiri.

Iya, aku juga..harus bisa mendidikmu agar bisa menjadi manusia mandiri. Seenggaknya jika mau bermanfaat bagi sekitar, minimal Mandiri dulu.

Kalo ingin jadi pohon yang bermanfaat: buahnya-dahan-ranting-akar-rimbunnya.
Minimal kudu jadi pohon yang kokoh tegak berdiri sendiri.

Mari terus belajar kita Nak , kamu dan aku..

Hip hip huray

Posted with WordPress for BlackBerry.

9 thoughts on “Anak Belajar Tiada Henti, Kitapun Juga..

    • zarahsafeer says:

      Thanks for commenting.. Woww, I never thought that a foreigner would visit this blog. Well, please let me introduce my sweety funny todller, Alzam,12m. He unplugged that hose from water tap in front of the house and brought it to the kitchen🙂 If want, you can use google page-translating feature to read my writing about learn the never ending learning process from baby … thanks for coming sandy🙂

      • Sandy Rodriguez says:

        Thanks! Yeah, that picture just looked so much like my Scottie (who’s now 28!!)…we lived in Germany just before he was diagnosed with autism. I’ve just started blogging about my adventures in parenting and right now have only two posts but it’s a work in progress. If you’d like, click on the Parenting link in the menu to see them and if it’s not okay to put the URL here, feel free to delete, I will take no offense…but thought you’d enjoy.🙂 http://beinghealthysite.com

  1. punyahannawilbur says:

    Anak akan siap ketika dia siap. Tanpa disadari banyak orangtua punya mindset (yg diajarkan semenjak sekolah) bahwa anak itu untuk ‘mau’ harus ‘dipaksa’. Padahal manusia punya kebutuhan dan ketertarikan, dan seperti tanaman akan terus tumbuh sesuai nalurinya. Justru ketika manusia memaksakan tanaman di luar alaminya (genetically modified), banyak permasalahan besar muncul.

    Begitu saya memposisikan diri sebagai fasilitator dan melepaskan rasa ingin mengontrol, semua jadi lebih mudah. Seperti petani yang mempersiapkan semua hal yang mendukung agar tanaman tumbuh, saya juga berusaha optimal menyiapkan ruang dan kondisi seoptimal mungkin, dan biarkan anak tumbuh dan berkembang sesuai nalurinya.
    😀

silakan komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s