Memulai Dari Nol

                Rasanya udah lama banget gak ngisi blog. Akhir-akhir ini aktivitasku lebih disibukkan dengan nulis di instagram dan bikin cerpen fiksi juga beberapa artikel non fiksi. Jadi, aku ikutan kelas online kepenulisan. Bahkan ada dua kelas yang aku ikutin sekarang. Pertama kelas menulis cerpen yang dimentorin sama anak muda gitu, yang kedua kelas menulis buku asuhan Pak Cahyaddi Takariawan. Sebenarnya bagiku yang selama ini nulis artikel lepas di medsos (beberapa viral di Facebook dan Instagram) mudah saja rasanya untuk menulis artikel. Namun saat harus membuat cerpen, rasanya kayak “What?!” hahaha…Pasti karena aku belum terbiasa menulis cerpen . Padahal saat aku SD hobiku adalah menulis cerpen, ini yang jadi pijakan dasar aku sebelum menulis apapun.

                Hal yang mendasari aku ikut kelas menulis online adalah tentu saja awalnya karena buku solo yang aku targetkan selesai tahun kemarin gak selesai-selesai. Alasannya sebenarnya karena aku merasa gak percaya diri saja, merasa minim ilmu, gak ngerti teknik dan gak tahu banyak tentang dunia pernerbitan. Untuk itulah di tahun 2018 ini aku konsen ke peningkatan ilmu dan pengalamanku. Aku rasanya butuh komunitas dan arahan dari yang sudah berpengalaman.

                Nah, bagi yang tahu bagaimana tulisan-tulisanku viral di Facebook rasanya mungkin heran, ngapain Zarah ikutan kelas menulis. Padahal Zarah juga pernah ngisi materi kepenulisan di forum dunia maya. Pertama aku ingin memulai kembali dari nol, terutama belajar teknik yang benar dari yang kompeten. Kedua, selama ini aku lebih banyak berbagi di medsos namun aku sadar, tulisanku di medsos tidak cukup kuat untuk diterbitkan sekelas buku. Aku ingin kalaupun nerbitin buku yang bakal long last dan orang gak akan cukup membacanya sekali namun beberapa kali karena saking bermanfaatnya. Ketiga,  aku ingin dapat masukan, saran, kritik dari para ahli tentang tulisan—tulisanku. Jadi saat mengikuti kelas menulis aku diharuskan setor tugas yang juga membentuk habitku menulis setiap hari. Tulisanku juga akan diberi feedback oleh mentor. Jika selama ini aku nulis untuk umum, kali ini aku nulis untuk ahli menulis. Tentu aku mengharapkan tulisanku lebih berbobot dan berisi nantinya.

                Dan lalu kenapa ikutan kelas fiksi? Seperti yang kutulis di atas, awal mula aku tertarik menulis saat kecil adalah menulis cerpen dan novel. Jadi, sebelum tulisan non fiksiku viral di Facebook aku telah melatih diriku pertama kali dengan fiksi. Menulis fiksi juga mengajarkanku menulis lebih detail karena untuk menggambarkan adegan tiap adegan agar menjadi hidup.

                Well, aku sempat merasa pada awalnya seperti mundur selangkah saat berhenti menelurkan artikel di Facebook dan agak menghilang di Facebook. Padahal aku sudah punya masa di sana. Namun, percayalah aku tengah mengisi diriku dengan banyak ilmu sebelum aku siap berbagi lagi kepada yang lainnya. Aku akan kembali dengan tulisan yang lebih berkualitas dan tentu saja sebuah buku! Goal dari kelas kepenulisan yang tengah aku ikuti sekarang.

                Saat menempatkan diri kita belajar dari nol, beneran kita mendapatkan banyak hal untuk dipelajari. Jangan pernah lelah belajar dan berbagi 😀

                Miss u all. So sorry beberpa janji tulisan kepending karena lagi konsen ke pelatihan ini. Dan kenapa nulis? Aku merasa punya tanggung jawab dengan bakatku ini untuk menjadi amal kebaikan. Tiap manusia aku yakin punya misi dalam hidupnya dan aku memilih jalan ini dengan kemampuan yang aku punya. Ini yang banyak orang bilang: Passion!

Advertisements

Anak Pendiam?

Beberapa waktu yang lalu  saat menghadiri sesi pembahasan psikotest dan konsultasi langsung dengan psikolog anak di TK aku dapat banyak sekali pencerahan. Paling gak aku bisa tahu kekuranganku selama ini dalam membesarkan anak terutama si kecil #azagirl yang masih usia playgroup (3,5 tahun saat ini). Kalau tentang #alzamboy so far so proud of him (sebagai emak bekerja yang banyak kurang waktu ngebaca hasil psikotest dan denger penjelasan sama psikolog sih merasa sejauh ini udah tepat nanganin dia.

 

Hasil observasi psikolog sih sebenarnya oke-oke saja buat #azagirl. Tapi sesi konsul langsung dengan psikolog jadi lahan buat aku konsultasi masalah pengasuhan. Aku rasa #azagirl itu tipe pendiam banget (kalau dengan orang asing dan di lingkungan umum). Wajar sih sebenarnya di usia segitu. Terus dia seneng banget main sendiri anteng dalam waktu yang lama. Tentu jadi kesempatan bagiku untuk mengerjakan aktivitas lainnya di rumah selama dia main sendiri. Dia kuat untuk main puzzle begadang semalaman dan baru tidur pukul 4 pagi. Untuk usia anak 3 tahunan menurutku itu WOW. Jadi waktu itu kita sedang #eurotrip dan bermalam di rumah teman. Nah, ada mainan puzzle kayu yang unik deh. Bukan puzzle kayu biasa yang kami lihat. Yaudah semenjak lihat itu puzzle kayu dia menolak untuk tidur malam dan kekeuh bongkar pasang puzzle sampai waktu sahur (saat itu Ramadhan).

 

Keras kepalanya emang bener bikin emaknya harus tarik-ulur ngadepinnya. Beda dengan kakaknya yang bisa dinegosiasi. Beda juga dengan kakaknya yang tipe sosial banget, azagirl bener-bener suka asyik main sendiri. Nah nah, akhirnya aku baru menyadari bahwa pola asuh selama ini memang benar memengaruhi dia. Selain emang ada bawaan karakternya dia yang emang begitu.

 

Beda dengan kakaknya yang sering diajak main keluar sejak bayi, pengasuh di rumah sekarang jarang banget ngajak #azagirl main ke luar rumah.  Beda juga dengan kakaknya yang dulu masih full perhatian, sekarang berhubung sudah dua anak  ( jarak 20 bulan) bikin emaknya lebih repot dan cenderung ngasih mereka mainan supaya main berdua anteng while emaknya bisa masak atau melakukan aktivitas lainnya. Kalau pas masih satu anak berasa pengen nemenin anak main, kalau sekarang cenderung ngasih mainan terus ditinggal untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.

 

Aku rasa itu penyebabnya, terus kata psikolog gak apa-apa sih kalau kita mau melakukan pekerjaan lainnya. Tapi itu anak jangan ditinggal gitu aja pas main sendiri, bisa disetelin musik (paling bagus murottal Alqurán) atau dinyalain TV atau radio. Intinya jangan sampai hening banget gitu. Nanti sisi negatifnya si anak jadi males ngomong karena gak ada temen interaksi. Dan lebih suka sendiri kurang suka sosial. Apalagi #azagirl tipe yang emang suka banget main sendiri dalam jangka waktu yang lama (konstrasi dia tinggi banget).

 

Kalau sebelumnya aku tipe yang senang ME TIME saat anak-anak main sendiri. Sekarang aku justru ingin melibatkan diri lebih lagi saat mereka main.  Justru dengan bermain bersama banyak hal yang bisa mereka dapatkan.

Masalahnya sepulang kantor aku rasa sih waktuku udah dedikasi penuh buat mereka (belajar, bermain, baca buku, nyanyi, main dsb). Rasanya sih, perasaanku aku udah cukup terlibat. Setiap di rumah rasanya emang waktu buat mereka. Hmmm…mungkin aku terlalu fokus sama si sulung sehingga melupakan kebutuhan #azagirl. Atau mungkin ya pengaruh pola asuh pengasuh yang sekarang. Itu sih kayaknya…..

Yah, namanya tumbuh dan berkembang kan ada saja fase-fase yang dilalui ya dan treatment-treatment tertentu untuk tahapan dan kondisi tertentu. Paling gak saat ini aku ada gambaran dan langkah-langkah perbaikan pola asuh khusus buat #azagirl supaya dia lebih semangat lagi mengeksplor banyak hal di luaran sana.

Jadi yang awalnya aku seneng aja kalau anak anteng main sendiri sekarang lebih berasa lebih melibatkan diri terutama komunikasi saat main bersama mereka. Kali aja berguna bagi yang ngerasa anaknya pendiam banget :p

 

Aza-aza fighting!

Kenapa Ibu Bekerja?

                Hai, rasanya mata masih perih walau air mata sudah kering. Meski ini bukan kali pertama meninggalkannya dalam keadaan menangis namun hari ini aku begitu terluka. Hal yang pernah dirasakan oleh semua ibu bekerja mungkin? Meninggalkan anak dalam keadaan menangis.

                Kamu tahu apa artinya takdir, beda lho dengan nasib? Kenapa kamu memilih nasib sebagai ibu bekerja? Kamu mengerti enggak tentang rejeki itu pasti untuk keluarga, pasti udah ada. Terus kenapa kamu bekerja apa yang dicari? Apa benar seorang wanita itu harus bekerja? Enggak. Kecuali kalau single parent, suami sakit, atau penghasilan suami tidak mencukupi dsb maklum saja ya seorang ibu bekerja. Nah, kalau kamu merasa bisa sebenarnya cukup dengan gaji suami saja terus ngapain masih bekerja? Nyari apa sih?

                Suatu hari aku diminta untuk mengisi kulwap (kuliah Whatsapp) forum ibu-ibu di dunia maya. Temanya saat itu mengenai ibu bekerja. Hmmm, di satu sisi rasanya berat banget ya buat ngomongin hal ini: menjadi ibu bekerja plus LDM. Tapi karena diminta berbagi semangat ya siapa sih yang enggak mau? Siapa tahu jadi amalan baik kan.

                Ada suatu hal yang membuatku tetap bertahan hingga detik ini untuk bekerja.  Pertama amanah dari orang tua pada mulanya, lalu terkait ikatan dinas yang mengharuskan aku untuk mengabdi pada negara. Kemudian menikah dengan suami yang mengizinkanku bekerja. Lalu kemudian saat hadirnya anak, apa yang harus kulakukan?

                Saat itu rasanya benar-benar aku ingin berhenti bekerja. Apalagi beredar broadcast dan tulisan-tulisan tentang kemuliaan ibu di rumah. Aku termenung, mencoba mengingkari nurani dan hati kecil namun ada sebuah tanggung jawab yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja. Aku ada tanggung jawab kepada orang tua, ilmu, amanah, dsb. Jauh daripada itu aku begitu bersyukur menjadi PNS, ASN lah ya istilahnya sekarang. Dikala orang lain mengkritik pemerintah begini-begitu, maka aku berkontribusi nyata dengan tenaga, pikiran, dan waktuku untuk negara.  Terlihat mulia banget yach niatnya? Yah, menurutku sih hidup gak main-main, apalagi yang namanya mengabdi jadi pelayan masyarakat ya seumur usia produktif, sampai pensiun (kalau gak resign). Ya masa main-main sih yah urusan ngabisin waktu hidup. Masa aku cuma sekedar ngantor doang ke kantor? No!

                Saat itu aku mulai mendalami niat dasar aku bekerja untuk apa? Untuk uang? Oh Men, 9 dari 10 pintu rejeki itu ada dari dagang! Kalau mau sekarang juga aku bisa putar haluan dagang.  Untuk eksistensi? Please, apa yang lebih diminati wanita selain bercengkrama dengan anaknya sepanjang hari dibanding capek-capek ngantor? Untuk apa dong menghabiskan waktu sampai usia pensiun di kantor? Rugi? Banget!

                Rugi? Iya rugi kalau ke kantor niatnya cari uang! Rugi banget deh soalnya masih banyak cara cari uang yang gak terikat jam kantor, masih banyak cara cari uang yang gampang dan mudah. Hari gini gitu. Masih banyak peluang cari uang tanpa harus terikat seusia produktif di kantor. Bayangin 5 dari 7 hari dihabisin di kantor sampai usia purna bakti! Ngapain ngegadaiin diri ke kantor coba? Waktu gak bisa kembali!

                Rugi! Rugi kalau niatnya cuma uang doang yang dicari. Kehilangan waktu yang gak bisa diulang lagi dengan anak, kehilangan waktu untuk kita bisa lebih berkretivitas menyalurkan hobi dan bakat. Eh bakat itu amanah lho! Tiap orang ada bakat yang kalau kamu percaya hari kiamat, nanti bakal ditanya selama hidup ngapain aja. Lalu kalau kamu jawab gak ngapa2in? Lha, Allah udah kasih kamu bakat yang unik itu jadi bekal kamu untuk hidup, kasih manfaat ke sesama.

                Pernah mikir gak bakat itu adalah amanah dari Allah?

                Balik lagi, jadi aku tuh ngerasa rugi serugi-ruginya kalau ke kantor CUMA cari uang doang! Bukan itu, bukan itu!

                Jadi pas Alzamboy jelang usia 2 bulan dan jatah cuti kantorku udah habis, aku bilang ke dia “Nak, ummimu ini kerja bukan buat ninggaling kamu. Kerja buat ibadah, dakwah.” Hahahah kamu ketawa gak denger aku ngomong gini ke anak bayi? Hahahah iya ya,  ya berasanya kerja gitu saja gak berprestasi amat tapi niat dan tujuan terlalu membahana. Ya, maklum lah yah udah ibu-ibu mah gak pengen eksisi kontribusi di kantor ntar anak dan keluarga keteteran kahwatirnya. Pilihan sih.

                Oiya kenapa aku bersyukur jadi PNS pernah aku tulis di tahun 2013 di sini:  motivasiku menjadi PNS (tapi siap2 ya tulisannya sungguh ALAY, berapi-api dan labil ala anak muda hahahahah)

               Setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Kalau kamu niatkan semuanya ke Allah, Allah yang akan kita dapatkan. Perlindungan-Nya, kasih sayang-Nya, pertolongan-Nya itu yang aku harapkan untuk anak-anakku.

                Tapi ada syaratnya, tentunya aku harus bekerja dengan sebaik-baiknya untuk menggapai ridho-Nya agar Allah menjaga dengan sebaik-baiknya anak-anak yang aku tinggalkan saat bekerja. Sampai kapan sih kita bisa nemenin anak kita tumbuh dan berkembang? Bahkan anak kita di depan mata saja kalau Allah berkehendak hal buruk bisa terjadi, namun meski kita jauh raga dengannya jika Allah menghendaki penjagaan yang baik baginya ya dia baik-baik saja. Maksudku, balik lagi niat kerja buat apa?

                Buat cari uang? Sumpah RUGI puluhan tahun mengabdi ke pemberi kerja! Namun karena aku sebagai PNS yah, jadi aku merasa ini salah satu wujud nyataku , sumbangsih untuk negara. Jadi aku gak ngerasa rugi sih.

                Hingga akhirnya pelan-pelan aku sadari, aku hanya seorang wanita yang lemah. Sejauh kaki ini melangkah tergantung ridho suami dan orang tua. Hingga aku bisa berdiri saat ini, ada ridho mereka di belakangku. Aku yang akan menguatkan doa-doaku. Di titik ini aku sadar aku benar-benar makhluk lemah yang sangat bergantung pada-Nya. Jadi yaaa, panjangkan doa malam harinya, minta hidayah dan kekuatan bisa sejauh mana melangkah.

                Oiya, buatku kerjapun gak sekedar ngantor tapi ya bawa perubahan juga. Aku suka ngobrol sama temen-temen kantor mau yang senior ataupun junior hahahah dari masalah cinta, rumah tangga dan pengasuhan anak. Bagiku sih, bahagia bisa saling mengisi dan memberi motivasi berbuat kebaikan. Juga aku belajar banyak dari masyarakat yang aku temui selama bekerja. Aku belajar banyak dari mereka. Tak jarang, dari obrolan ringan hingga serius jadi inspirasi bikin tulisan-tulisan yang kemudian juga banyak di-share di Facebook dan Instgram kemudian (gara2 diregram sama @nikahmudalillah jadi diberondong regram selanjutnya sama akun2 yang ratusan ribu follower lalu mulai deh masuk DM*norak hahaha. Soalnya kalau di FB udah biasa, kalau di IG baru kali ini wkwkwk)

                Yaaaaa, kalau kamu saat ini masih bekerja namun setengah hati segera tuntaskan, bereskan, kasih keputusan. Kalau masih bekerja ya, jangan berkecil hati atas semua ketidaksempurnaan. Rasionalitas manusia berdasarkan jurnal-jurnal dan penelitian juga teori-teori parenting masa kini belum bisa memberi jawaban kenapa ada “Kun Fayakun”. Kalau Allah berkehendak menjaga diri kita sekeluarga? Ya, apapun bisa terjadi kalau dia menghendaki. Semoga makin dekat dengan-Nya dan diberi hidayah selalu~~~

Satu lagi, gak ada yang mengharamkan wanita bekerja. Kecuali pekerjaan haram ya dari namanya saja sudah haram. Kan, kan, kan, tulisan ini juga menjadi motivasiku agar aku menunaikan waktu di kantor dengan lebih amanah karena aku juga gak ingin orang lain yang kerjanya mengasuh/mendidik anak-anakku saat aku ngantor asal2an juga. Kan kita percaya teori sebab-akibat.

Ya Allah, semoga aku bisa mempertanggungawabkan semua amanah ini.

Apapun kondisimu saat ini semoga bisa mempertanggungjawabkan sebaik-baiknya, mau jadi ibu bekerja atau jadi ibu rumah tangga yang namanya jadi ibu emang yah harus banyak belajar dan berusaha!

*Anak-anakku, someday kalau kalian sudah besar dan blog ini masih ada, inilah isi hati Ummimu anak-anakku. Semoga Allah melindungi kalian selalu selamanya

Kacamata Pasangan

Suatu hari dengan semangat prima saya membelikan kaca mata hitam untuk suamik. Rasanya senang ngasih dia kejutan. Mentari musim panas begitu menyilaukan membuat sakit mata. Dia pasti perlu barang ini. Rasanya saya pantas menyandang predikat sbg istri tanggap kebutuhan suamik. Yuhuuu!!!


Tapi saat saya sudah memberikan kaca mata hitam ke dia, ekspresi tidak sesuai ekspektasi. “Tega banget sih ngasih Mas kaca mata hitam. Udah tahu mata mines, tambah gak jelas pakai ini.” Bicaranya datar tapi kelihatan raut mukanya kesel.

Eh, “Emangnya makin gak jelas kalau pake kaca mata hitam ya?” Serius rasanya bodoh banget. “Ya udah buat aku aja yaa..” Kok rasanya seneng karena ini barang kebutuhan saya. :p

Kejadian lalu itu berkesan deh!

Kesimpulannya kita seringkali mengukur kebutuhan orang lain dengan kebutuhan kita sendiri. Sering membahasakan rasa sayang dengan cara yang menurut kita nyaman namun belum tentu menurut dia. Sering mengharapkan dia mengetahui kebutuhan diri kita, namun kita sendiri masih sering menggunakan tolak ukur diri sendiri untuk mengukur dirinya yg pasti berbeda.

Karena saya tidak rabun jauh jadi saya nyaman pakai kaca mata hitam biasa, lalu saya mengukur suamik dengan kebutuhan saya. Padahal dia memerlukan kaca mata hitam khusus untuk rabun jauhnya kan?

Ini sih contoh kecil dari banyak seluk-beluk #rumahtangga .  Bisa jadi masalah rumah tangga selama ini gara-gara: menggunakan kaca mata sendiri untuk melihat pasangan. Tragisnya banyak rumah tangga karena hal begini jadi berantakan. Ini bener-bener bisa jd renungan lho, jangan-jangan selama ini kayak gini ke pasangan. Mungkin ini sebabnya berantem mulu, ngerasa dia gak peka, merasa jenuh dgn pernikahan, merasa dia gak cinta, merasa salah milih jodoh, merasa lelah tak selalu sama, merasa jengah selalu saja selisih paham dsb.

Mungkin sekali-kali perlu bertukar kaca mata dengan pasangan. Inilah gunanya dari: duduk bersama, pillowtalk, quality time, nge-date, dinner cantik, dan semuanya yg bisa bikin bicara dari hati ke hati.
#marriedlife #pernikahan #samara #couple #England #throwback #halalcouple #sakinah enaknya pakai hastag apa sih? Hahaha smw dibikin hastag.

Menyiapkan Anak Sesuai Zaman

Sebenarnya nulis ini killing time aja, udah nunggu 30 menitan di farmasi (suami sakit, nganterin dia).

Nah, kenapa akhir-akhir ini kepikiran ttg menyiapkan anak untuk zamannya. Entah kenapa sekelebat peristiwa masa silam (eciye) menari-nari. Keinget banget saat Ibu bilang

“Ngapain milih psikologi? Kerjanya ngurusin orang…”

Saat itu aku sempat mau milih psikologi UNPAD jadi pilihan ke-2 saat SPMB tahun 2015. Alasannya ya karena aku suka ngurusin orang ha ha ha (percaya gak?).

Selain itu, aku yakin Psikolog bakal jadi profesi paling laris di saat usiaku 30 tahunan (usia produktif berkarya). Usiaku saat ini 30 tahun di tahun 2017. Bener dong, Psikolog ya awalnya apaan sih kerjaan apa jadi emang bener dicari. Di setiap sekolah TK paling enggak ada seminar parenting, tulisan-tulisan yg lagi byk diminati ya ttg parenting juga kan. Juga, masa kini masalah psikologis orang makin kompleks. Kok tahu? Ya lihat aja banyak yang curhat di dunia maya kan? Kan? Kan?

Gemas gitu deh. Tuh kan, kalau ngarahin masa depan anak jangan sesuai dengan zamn kita tapi gimana zamannya dia nanti. Rasanya kayak mau bilang ke Ibu “ini loh Bu, maksudku kenapa aku waktu itu pengen jadi psikolog (pilihan ke-3 sih)”.

Akhirnya pilihan ke-2 aku bulatkan untuk matpel favoritku: Biologi, ITB. Tapi, aku juga daftar ke Universitas swasta lain (Manajemen Polban) juga PTN kedinasan STAN. Kenapa Manajemen? Aku suka ngurusin orang ha ha ha. Apalagi manajemen SDM. Aku gak keterima FK Unpad sebagai pilihan pertama jadi ambil Biologi ITB. Manajemen dan STAN ya udah sebenarnya cuma cadangan gitu. Tapi berhubung nurut Ibu, dari ITB aku pindah ke STAN. Wajar banget deh rasanya orang tua generasi X ngarahin anak agar jadi PNS karena memang zaman mereka PNS ya prestise. Minimal hidup cukup saat pensiun dalam benak orang tua. Saat itu ya aku cuma nurut aja sih. Rasanya aku gak siap menghabiskan hari di Kampus Ganesha, jurusan Biologi bukan yang sepenuhnya aku siap jalani. Walau aku suka banget dan emang keterimanya di Biologi, cuma aku gak siap kalau harus nge-lab berjam-jam. Karena hobiku: ngurusin orang (ha ha ha)! Aku suka sosial!

Itulah mengapa walau pindah haluan jadi PNS di Kemenkeu ya seneng juga karena ketemu orang! Ngobrol dan memberikan edukasi itu kepuasan tersendiri. Makasih Ibu udah maksa daftarin aku ikutan USM STAN!

Oiya, kembali lagi menyiapkan anak sesuai zamannya. Saat SMA aku di-les-in ibu kursus Bahasa Inggris. Sungguh aku senang karena Bahasa adalah kesukaanku selain Biologi dan ngurusin orang (Psikologi, Sosiologi, Sejarah, Manajemen). Ibu bilang “Harus menyiapkan anak untuk bekal masa depan.”

Saat itu sih gak mikir bakal ke LN, mikir kuliah di LN sih rasanya mimpi aja gitu. Tapi ternyata karena bekal kursus ini aku PD banget speak in english (seenggaknya ikutan VJ contest perwakilan Bandung pas SMA) juga memudahkan pas ngerjain soal ujian apapun.

Eh terakhir baru nyadar, ini juga yang memudahkanku cas cis cus ngomong sama foreign people pas ikut suami di UK (padahal terakhir speaking pas SMA).

Saat itu, aku baru nyadar emang ibuku menyiapkan aku untuk menyambut zamanku.

Masih banyak yang pengen ditulis, pegel tapi pake android lagian keburu resep udah jadi.

So, kalau kamu penganut teori kiamat terjadi puluhan tahun lagi. Nyiapin anak tentang konsep dan skill bertahan hidup deh *etdah apa ini endingnya mendadak dan gantung

CIWIDEY SHORTTRIP EP.2

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak sudah ke Ciwidey, tepatnya Situ Patenggang. Ceritanya ada di sini. Saat itu karena hanya saya sendiri membawa anak-anak saya gak berani mengiyakan permintaan mereka menaiki perahu dayung dan perahu angsa. Berkali-kali hal yang saya sampaikan ke mereka “Nanti, bareng sama Abi ya, kalau Abi sudah pulang.” Saya cukup paham kemampuan saya sehubungan dengan perahu ha ha ha ha. Saat bulan Juni lalu saat Eurotrip ke Giethorn, Belanda saya sok-sokan pengen belajar mengemudikan perahu motor. Net not! Gagal banget lah hi ih. (oiya belum dicatat di blog ini sih wisata ke Belandanya).

Nah lalu kemudian dua minggu kemudian Abinya anak-anak sudah pulang ke Indonesia. Walau mereka gak nagih tapi sebagai Emak tentu merasa kayak dikejar hutang. Promise is Promise kan.

Mengulang rute yang sama seperti dua minggu sebelumnya, kami menepikan mobil saat jam makan siang di Kampung Goembong. Harapannya sih dapat nuansa pemandangan alam di saung lesehannya dan bisa ayun-ayun di hammock. Kenyataannya, ya itu restoran di-booking sama acara ibu-ibu pakai dangdutan pula. Hanya kebagian tempat makan di kursi biasa (bukan lesehan), apalagi hammock yang cuma satu-satunya udah deh boro-boro.

Kenapa balik ke restoran ini karena murah tentunya dan anak-anak makan banyak banget pas ke sini. Padahal rasanya biasa saja kok. Lalu sampai Situ Patenggang sekitar pukul 2 siang. Dan terkabullah permintaan mereka: naik perahu!

 

Kami membayar 75 ribu rupiah untuk porsi 3 orang (karena 2 anak masih kecil jadi dihitung 1 orang). Perahunya, perahu dayung. Kita naik perahu dari situs daratan Situ Patenggang menyebrang ke Glamping Lakeside ikon wisata yang sudah go internasional. Beberapa turis bule dan Asia juga banyak terlihat di Glamping. Salah satu ikon yang terkenalnya ya: jembatan gantungnya dan restoran di atas kapal pinisi juga camp-camp penginapannya.

Nah setelah perahu mendarat di daratan Glamping, penumpang diberi waktu 30 menit untuk jalan-jalan di Glamping Resort. Kami jadi buru-buru deh ha ha ha. Mau jajan waktu sempit, mau eksplor gak berani jauh-jauh. Jadi cuma foto di ikon wisatanya Glamping.  Padahal banyak lho wisata di Glamping: Taman Kelinci, Batu Cinta (legenda Situ Patenggang), Restoran dalam bis, Restoran perahu pinisi, camp-camp, kebun teh, dsb. Kebayang suasanan malam di Glamping pasti eksotis! Soalnya banyak lampu minyak bergantung di bambu di sepanjang jalan setapak.

Sebenarnya akses masuk ke Glamping bisa lewat gerbang tersendiri. Namun ternyata kita juga bisa masuk Glamping dari Situ Patenggang (naik perahu).  Jadi, kalau ke Situ Patenggang jangan lupa ya naik perahu dan mampir ke Glamping!

Setelah menyebrang kembali dari Glamping ke daratan Situ Patenggang, kami naik perahu lagi (perahu angsa). Promise is Promise kan? Kali ini ngelunasin janji dengan Azagirl yang ngotot naik perahu angsa kala itu.

Nah, disinilah kemampuan genjot diperlukan agar perahu angsa bisa melaju. Area berlayarnya (eciye berlayar) ya seputaran Situ Patenggang saja cuma kita lebih bebas kan rutenya, kami bayar 30 ribu rupiah untuk durasi 1 jam. Kalau naik perahu dayung kita bisa menepi dan tertambat ke Glamping, kalau perahu angsa ya kagak bisa, cuma muter-muter doang.

Habis itu sebelum pulang, saya tertarik membeli terong belanda dan pepino di penjaja kaki lima. Tiga kilo terong belanda seharga 100 ribu rupiah (setelah ditawar) berbonus 3 buah pepino. Ini semua buah kesehatan! Bukan buat saya sih, tapi buat orang tua. Tetiba keingetan.

Sudah dibilang, kalau ke Ciwidey memang gak cukup satu hari deh. Yah, sehabis dari Situ Patenggang kami langsung turun ke Bandung (mampir ke rumah orang tua juga). Padahal kami belum ke perkebunan teh Rancabali, Kawah Putih, Peternakan Rusa Ranca Upas, Petik Stroberi, Peternakan Kelinci, pemandian air panas, dsb.

Btw kalau ke Ciwidey jangan lupa sedia payung, atau jaketlah yah, walau cuaca gak sedingin Ciwidey belasan tahun silam tapi hujannya itu cukup sering. Sebenarnya cuma gerimis aja sih tapi kadang juga lebat.

Yah, bagaimanapun Ciwidey emang gak ngebosenin deh. Makin banyak inovasi wisatanya.

 

REVIEW TRAIN HOSTEL (BELGIA)

Sebelumnya kami merencanakan untuk menginap di penginapan milik seorang WNI (Kak Rahma) di Brussels, namun konyolnya kami lupa men-cancel bookingan hotel di TRAIN HOSTEL, Brussels. So, daripada debitan dari rekening kami hangus sia-sia akhirnya kami memutuskan untuk menginap di TRAIN HOSTEL dengan sedikit berat hati. Karena saat itu malam ke-13 ramadhan saat kami sampai di Belgia, rasanya lebih afdhol kalau sahur dengan hidangan masakan Indonesia, terutama nasinya kan he he. Bayangan sahur masakan Kak Rahma yang telah lama tinggal Brussels lenyap deh.

Kami sampai Train Hostel pukul 02 dini hari karena penerbangan kami baru menyentuh landasan Charleroi pukul 22 kurang. Lalu kami baru menaiki bus dari Charleroi pukul 00 dan sempat drama baterai HP mati, jadi baru dapat supir Uber pukul 01.30. Bayangan denda telat check in sudah menghantui sih, ya harganya mirip dengan tariff semalam. Jadi, udah pasrah aja sih bayar fee lebih karena last check in pukul 23 kalau gak salah.

Cerita berkesan dengan 2 orang upir Uber yang mengantar kami : Mohamed dan Mohamed pernah kutuliskan pada post ini. Singkat cerita kami sampai di Train Hostel dengan bengong karena gelap gulita. Pintu pun terkunci! Oke fix udah tutup! Dan digedor-gedor pun gak dibukain. * Cry

Udara dingin kota jelang Subuh menerpa tubuh kami. Anak-anak berlindung di stroller, menahan kantuk. Suasana di Schaarbeek lengang, sepi, senyap hanya temaram lampu jalanan yang hidup redup. Hendak kemana kami merebahkan diri, sebentar lagi juga masuk waktu Subuh. Dalam hati rasanya ingin nangis deh. Belum lagi, menu buka puasa kami hanya beberapa teguk air putih dan beberapa potong biscuit setelah berpuasa hampir 19 jam. Ini baru hari pertama dari rangkaian 10 hari keliling Eropa, namun hatiku sudah mencitu.

Ahh, aku mencoba mengetuk jendela ruangan resepsionis yang terlihat terang karena lampu duduk. Hanya ruangan itu yang menyala terang sementara yang lain gelap gulita. Beberapa saat kemudian, terlihat seorang pria dengan rambut acak-acakan dan muka bantalnya menyambut kami. Mengintip dari jendela lalu membukakan pintu bagi kami. Alhamdulillah!

Kami meminta maaf terlalu larut check in karena banyak kendala. Lalu dia memberikan kami kunci dengan meyakinkan terlebih dahulu pada kami “Kabin kereta? Tidak ada selimut di ruangan kabin kereta.” Iya nampak ragu melihat anak-anak kami yang masih balita. Ya, aku baru menyadari kemudian jika kamar yang kami pesan benar-benar kabin kereta!

WhatsApp Image 2017-10-08 at 08.58.05(4)

Kamar Kabin Kereta

Segera setelah sampai kamar, kami membereskan barang-barang. Bersiap-siap untuk melaksanakan sholat dan baru kami sadari, kamar ini sangat kecil sehingga kami tidak sempurna meregangkan punggung untuk sujud dan rukuk. Kamar kecil ini hanyalah seukuran 2 bangku kereta yang saling berhadapan dengan jarak sempit diantaranya. Ya persis kayak kabin keretanya di film Harry Potter. Meski demikian, kamar ini dapat menampung 6 orang karena terdapat 6 bangku yang dapat digunakan sebagai single bed. Pada sisi bangku terdapat 3 bangku kereta yang disusun ke atas demikian pula bangku di hadapannya. Jadi kamar kecil ini pas buat 6 orang bebaring. Catatan: gak berlaku buat orang ukuran jumbo hahahaha.

Jadi masalah saat semua orang ingin berdiri dan bergerak, duh susah banget, boro-boro ha ha ha. Akhirnya kami menata barang-barang kami di bangku teratas lalu menggunakan bangku di bawah sebagai tempat tidur. Sementara itu suami memilih tidur di tingkat ke-2. Oiya, anak-anak memilih tidur bersamaku. Jadi, satu bangku untuk tidur 3 manusia sambil bebaring. Rasanya? Pegel! Ha ha ha ha. Tak ada selimut, maka kami menggunakan jaket. Oiya, tak ada heater juga! Tapi karena sudah masuk summer jadi gak sedingin malam-malam biasanya.

Esok paginya kami segera bergegas karena pukul 10 harus check out. Meski hanya beberapa jam tidur namun anak-anak tampak cukup ceria! Kamar mandi untuk kamar kabin menggunakan kamar mandi bersama (shared bath romm). Cukup nyaman, tapi aku kurang suka dengan aroma sabunnya. Menurutku bau amis. Sabun dan samponya aneh! Pun meninggalkan sensasi licin di kulit. Ini sabun apa yak, agak curiga pakai unsur hewan. Ha ha ha, dasar curigaan.

Setelah membereskan kamar dan bersiap-siap kami baru menyadari bahwa deretan kamar-kamar di tempat kami bermalam memang gerbong kereta beneran! Pagi hari membuat penglihatan lebih jelas dibanding saat malam kami datang kan, kami benar-benar terkesima dengan hotel unik ini. Segala ornamen tentang kereta dimana-mana.

Kami berfoto di depan kamar gerbong kami. Lalu aku merasa seorang lelaki bule mengamati kami dengan saksama sambil menuliskan sesuatu pada bukunya. Karena merasa jadi objek perhatiannya, akhirnya aku menawarkan pada suami “Mas, minta tolong Bapak itu aja untuk fotoin kita deh. Kayaknya dia tertarik sama kita deh, daritadi merhatiin.”

WhatsApp Image 2017-10-08 at 08.58.06(1)

Gerbong Kereta Terdiri Dari Beberapa Kamar

Akhirnya Yogy berkenalan dan mengobrol panjang lebar dengan Markus, lelaki berkebangsaan Jerman yang tengah melakukan perjalanan bersama mahasiswa binaannya di Belgia. Markus seorang dosen pendidikan anak-anak. Oh, jadi itu kenapa dia sangat memperhatikan kami yang tengah membawa dua anak balita. “Bisakah kami meminta tolong untuk difotokan?” Akhirnya tibalah saat Yogy menyampaikan maksudnya. “Oh sure! I’ll do my best!” Markus semangat dan antusias.

WhatsApp Image 2017-10-08 at 08.58.05

Kamar-Kamar Unik Nuansa Kereta

Tentang Train Hostel, kayaknya kalau ke Brussels harus ke sini lagi deh. Unik banget, tiap kamar berbeda nuansanya. Mau nginep di gerbong atau di kamar biasa juga ada. Suasananya juga nyaman dan kekeluargaan khas hostel. Dan ratingnnya bagus banget di Tripadvisor dan bukan tanpa sebab kan. Aku pun kasih rating yang bagus untuk Train Hostel. Terpenting harganya masuk akal kalau dirupiahin! Untuk kamar kabin kereta kami kalau dirupiahin sekitar 500 ribu rupiah tapi tanpa breakfast ya. Oiya, surprisingly kami sama sekali gak bayar fee terlambat check in kayaknya karena mereka kasihan sama kami, jelang subuh baru sampai penginapan dengan membawa dua anak balita.

Kata Mak Sondang sih bisa juga masak Indomie di pantry Hostel. Tapi, kami pas kami bikin hidangan sahur ala kadarnya pantry gelap gulita euy dan gak ada petugasnya. (yaiyalah) jadi cuma ambil air putih aja di pantry… Thk u Mak Sondang, nyontek itin dia nih nginep di Train Hostel, Thk u juga Mak Vivi yang kasih info tempat menginap di rumah WNI walau ternyata gak kesampaian ke rumah Kak Rahma.

WhatsApp Image 2017-10-08 at 08.58.06

Train Hostel

FROM THE BOTTOM OF MY HEART

Bisa dibilang, nulis itu udah jadi keseharian hari-hari sejak TK, sejak belajar menulis. Pun, aku gak niat-niat amat buat bikin tulisan bermutu yang kayak gimana gitu. Awalnya Cuma hobi, hobi yang kalau gak dilakuin ya bakal penat dan suntuk. Awalnya ya konsumsi pribadi aja di diary dan coba-coba kirim tulisan dimuat media Bobo pertama kali saat SD, terus makin ke sini gak nyangka tulisan di blog zaman dahulu kala (2008-an) ada yang plagiat (pertama kali aku nemu tulisanku di copas di web kampus daerah Jawa Barat). Kalau sejak nulis di Facebook terus diplagiat yaudin resiko, tapi memang biasanya pas viral byk jg plagiatnya. Semua tulisanku gak semuanya dari pengalamanku, tapi lebih banyak dari memperhatikan orang lain dan lingkungan. Lalu kalau tentang blog Zarahgy emang diary keseharianku dari masa ababil sampai sekarang. Jadi kalau yang di blog ya curhat kali ya tapi diusahakan berfaedah. Zarahgy kayak dokumentasi pernikahanku dengan Yogy! Ahey… Aku suka cerita karena aku suka membaca, habis membaca hal-hal yang inspiratif jadi semangat gitu. Aku juga pengen menyemangatin yang lain.

Lalu, setelah dimuat di media lagi (UMMI) aku beraniin nulis berfaedah di Facebook, gak nyangka responnya sebegitunya. Aku rasa angka sampe ratusan ribu share adalah suatu angka yang WOW pada waktu itu! lalu kemudian, beredar pula tulisan-tulisanku di group WA. Ealah, ini tulisanku aku dapet dari broadcast! Aku merasa WOW! Aku mulai merasa menulis lebih serius lagi, aku habiskan waktu dgn ngobrol dan melayani orang lebih banyak lagi. Aku ingin menyuarakan hati-hati para ibu, istri, wanita, yaa all bout parenting, marriage life dan women things! Aku juga gak nyangka blog ini jg beberapa post jadi halaman pertama di google. Jadi ada tawaran kerjasama yg aku terima, walau sebelumnya aku gak menerima.

Jadi aku sangat terbuka kalau ada yang japri curhat (biasanya di email atau inbox FB) aku sangat senang, mendengarkan cerita mereka, ceritamu juga 🙂

Dari kisah-kisah mereka aku mencoba membuat tulisan lebih umum dan diterima semua khalayak, sepeti biasa aku biasanya post di Facebook. Untuk tulisan di blog memang lebih privasi gak semua ku share di FB. Juga tulisan di Instagram, aku rasa semuanya di IG ya lebih ke-alay-an aku aja as a women 30’s hahahahahahahah…

Suatu hari, gak nyangka saat ada orang yang berpendapat bahwa tulisan-tulisan di Fb ku itu adalah based on my true story. Oh, please….saat itu aku langsung down banget. Sebisa mungkin aku menjiwai tulisan jadi dikira pengalamnku kali ya. Padahal, aku paling anti share privasiku di Facebook. So, karena anggapan itu aku sempet urung nulis dan take a deep breath! Fuh…. Aku MERENUNG DALAM!

Etapi ya ada juga yang curhat di Facebook tapi yang berfaedah dan bukan hal sensitif atau masalah keluarga. Pokoknya aku gak mau dibilang curhat hal sedih dan DIKASIHANI. Kayaknya itu poin yang bikin aku tersulut: DIKASIHANI. Bahahahah dasar PMS!

Eh, terus tiba-tiba pas cerita ke suami kalau ada anggapan tulisanku itu curhat, kesepian dan kayaknya naas gitu diriku, naas nasibku (bahkan ada yang nangisin diriku karena LDM) Oh NO! AKu baik-baik saja! Hahahah, dia (suami) cuma ketawa aja. Hahahahah lalu obrolan via video call itu benar-benar jadi menyenangkan. Kami tertawa ringan! Oh Man, mereka gak tahu tentang tujuan hidup rumah tanggi kami. Visi-misi yang menjiwai setiap hari kami juga mimpi yang indah menanti. Tak pernah kumenyesal tentang apapun yang kujalani bersama dengan keluarga ini. I Love You (Yogy, Alzam, Aza dan anak-anak selanjutnya hahahahah). Jika ada yang bilang sedih karena keinget aku yang sedari dulu LDM. Oh Well, yang ada banyak banget hal yang perlu aku syukuri. Gak bisa sedih, gak bisa….sedih karena kurang bersyukur iya!

Lalu kemudian aku baru menyadari hari-hari kemarin aku PMS! Jadi bener2 bikin padam hari-hari. Bikin sentilan saran orang tentang kehidupan pribadiku jadi berasa tonjokan. Padahal dia care kan! ya, aku cuma gak suka DIKASIHANI. I’m fine, we are so FINE!

So, aku sekarang akan kembali lagi menulis untuk semua. Kalian, aku gak ada maksud apa-apa dgn menulis yang menggugah hati bhkn mungkin menguras air mata kalian dan bahkan baper kepanjangan (sampai ada yang nelpon karena baper sama tulisanku di FB). Kalau yang japri yaudin jangan tanya (emang kerjaan setelah viral ya akan nerima curhatan jarpi). Aku cuma ingin menyemangati kalian, menemani hari-hari kalian. Ada yang nanya gmn cara menjiwai tulisan-tulisanku itu? Aku memosisikan diri dan mencoba memahami hari-hari kalian. Sungguh bukan pengalamanku yang kutuliskan, anti banget gue share begituan deh.

So, lanjutin lagi nulis bukunya dan nulis lain-lainnya. Sekian curhatnya! Hahahaha…dan jangan pernah kasihani aku, please! Aku paling gak suka dikasihani gitu, sekali lagi tulisan-tulisan yang aku tulis di Facebook aku tujukan utk berfadeah bagi khalayak ramai not curhat semata, tulisan di IG yang curhat alay sih, tulisan di blog Zarahgy ya diaryku aja sih hahahahaha. Jadi, memang aku kurang aktif untuk sehari-hari di Fb, kecuali saat waktu seputaran posting (terutama kalau jadi viral aku pantau) karena Fb bagiku untuk sarana publikasi tulisan berfaedah. Aku susah menej FB, gak bisa kuikutin semua (kurang waktu) mending ngapain gitu. Jadi kadang sedih gak bisa melihara follower karena jarang aktif wkwkwkwk…kecuali kalau post. Tapi aku eksis di IG dan blog hahahaha…

Aku gak pernah merasa posisiku berbeda dengan pembaca atau gimana, walau beberapa kali jadi narasumber di kuliah Whatsapp group ibu-ibu aku sama sekali gak ngerasa pantes. Serius masih pantes jadi peserta! Aku senang kalau berbagi semangat, aku dan kamu sama saja, sama-sama belajar kan kan kan. Sampai akhir hayat.

Ahhhh terima kasih sudah membaca

PLONG!

Ciwidey Shorttrip

Sebelumnya ini kali kesekian, lebih dari 3 kali ke Ciwidey. Namun ini kali pertama nyetir sendiri ke Ciwidey bawa anak-anak. So, karena ini pengalaman berkesan bagiku patut kutuliskan di sini!

Awalnya sih niatnya survey sekolahan buat Alzam saat SD nanti, kebetulan letak sekolahnya di daerah Margahayu, Kopo di Bandung Selatan. Cuma yang terjadi adalah sekolahnya gak dapet (baru di malam hari dapat info itu sekolah pindah) dan yang ada malah mendadak si gue memutuskan cusss ke Selatannya Bandung: Ciwidey!

Emang sih, kalo orang tipe spontan apa aja bisa terjadi. Keputusan tak terduga yang tiba-tiba hahahah. Jadi, saat mau balik arah setelah kagak dapat SD dimaksud lalu menuju Bandung. Kok macetnya panjang banget yak! Entah berapa kilo dari Lanud Sulaiman 2 udah macet! Biasanya macetnya sampai menuju tol Kopo Bandung. Duh kok males banget ya! Daripada 1 jaman nyetir mobil manual bareng anak-anak mana panas siang bolong mending nyetir durasi lebih lama tapi lancar dan ngelihat pemandangan yang ijo-ijo.

“Kita ke gunung aja ya?” Ajakku. Bisa ditebak gimana reaksi anak-anak? SENENG! Wah, di sepanjang jalan kita nyanyi, cerita, dan ngobrol apa aja. Lalu, aku baru inget mereka tadi cuma dikit sarapannya. “Mau makan sekarang atau nanti?” Tawarku. “Sekaranggggg ….” Alzam yg jawab. Karena emang holiday dadakan jadi emang gak prepare perbekalan, bakal jadi potensi repot kalau mereka kelaparan di gunung dan susah cari tempat makan.

Jadi pukul 11.30an aku tepikan mobil ke Kampung Gombong, restoran di sisi kanan jalan dari arah Bandung. Tempatnya seru banget! Gak begitu besar, ada mushola, kolam ikan, burung, lesehan, dan view-nya mantap! Kita bisa lihat dataran sawah dan gunung sambil bebaring di hammock. Tapi cuma 1 doang soh hammock-nya. Dan yang paling juara: murah! Pesan 3 porsi makanan dan 1 tambahan minuman cuma 75 ribu sahaja!

Kampung Gombong

Setelah makan kami menuju atas! Yihaaa seingetku perjalanan gak nyampai 1 jam udah sampai di Situ Patenggang! Danau Legenda di Ciwidey.

Sebelumnya, petugas tiket ngecek penumpang di dalam mobil sebelum ngasih tiket. “Berapa orang Bu?” Tanyanya. “Cuma saya sama anak-anak Mbak, masih pada kecil gini.” Berharap murah. “Oh, diitung 2 orang tiket aja ya Bu.” Terus cuma bayar buat 2 orang aja tiketnya seharga 45ribu!

Terus sampai parkiran Situ Patenggang udah diserbu pedagang stroberi. “Cuma bertiga aja Neng?” Tanya ibu stroberi yang mendadak kepo. “Iya bu…” akhirnya kena bujuk rayu beli stroberi sekotak 10ribu. “Oh, da neng mah bisa nyetir sendiri ya.” Si ibu bergumam. Aduh yang ada aku jadi gak enak berasa nekat gak sih bawa anak nyetir sendiri ke gunung? Hahahha. Padahal sebelum2nya udah pernah bawa mobil sendiri ke Taman Safari bareng anak-anak balita wkwkwkw. Jadi santai lah.

Nah, sampai Situ Patenggang, Alzamboy ngebet banget naik perahu. “Mau naik kapal. Naik kapal. Naik kapal.” Repeat as long as we stayed at Situ Patenggang. Ini jadi kesempatan pedagang sewa kapal buat ngebujuk rayu “Teh, ikut paket keluarga aja 120ribu pake kapal saya.” Si Mang perahu menjajakan. Lalu beberapa menit kemudian harganya turun jadi 75ribu tapi gak aku iyakan. “Tar aja ya, kalo Abi udah datang” bujukku ke Alzam.

Duh ya, buat urusan peperahuan jujur karena gak ada abinya anak-anak gak PD ah. “Gak bisa ahh, nanti kalo mogok Ummi gak bisa. Tar aja pas ada abi ya.” Pokoknya jawaban mengikutsertakan nama Abi berulang kali disebut untuk hal-hal yang Umminya ragu. Lalu ternyata belakangan Abinya bilang katanya dia keinget Ciwidey. Ya gimana enggak, pas di Ciwidey sebut nama Abinya berkali-kali. Haha…Alhamdulillah, Abinya anak-anak hitungan hari lagi touch down Bandung! Iyey! Semoga lancar semua urusan ya Beb!

Singkat cerita cuma 30 menit di Situ Patenggang. Lalu turun ke Bandung lagi, sambil berhenti sejenak di dataran kebun teh. Coba ada Abinya, pengen masuk semua wisata deh: Rusa di Kampung Cai Rancaupas, waterpark Ciwidey Valley, Petik Stroberi, Ternak dan Pasar Kelinci, Kawah Putih, Taman Love, dsb banyak banget wisata di Ciwidey! Next time pengen bermalam di Ciwidey bareng keluarga deh

Lalu akhirnya ternyata kena macet juga pas mau ke Bandung tapi gak separah siang tadi. Sampai rumah pukul 5 sore, berangkatnya jam 10 pagi. Wuihhhh sekali-kali emang perlu liburan dadakan gini! MOOD!

Wisata Kastil Di Belanda

Hari itu kami diajak keluarga Aden untuk mengunjungi kastil di daerah Utrecht, Belanda. Judulnya memang familty trip dengan balita-batita-bayi. Kalo kalian suka dan tertarik dengan kehidupan kerajaan ala dongeng Cinderella cocok deh ngunjungin kastil ini. Persis plek mirip di film-film.

*Kasteel De Haar*

Dimulai dari taman bunganya yang indah bermekaran di hamparan padang rumput, patung-patung dan air mancur ala kerajaan Eropa, kolam yang mengelilingi kastil dan harus ngelewatin tangga gantung buat masuk ke kastil, karpet merah, interior ala kerajaan kayak di film ternyata emang nyata, bentuk bangunan yg beratap kerucut kayak istana di negeri dongeng yah emang serius nyata. Bukan kayak istana boneka di TMII ya hahahha…

Saat kami datang lagi ada pernikahan keluarga baron yang mempunyai kastil tsb. Kastil ini masih ditempati dan menjadi tempat tinggal bagi keluarga baron saat berlibur. Tahukah yang lebih ngagetin kastil ini dimiliki oleh keluarga Rothschild. Keluarga kaya raya yang menorehkan banyak sejarah, salah satunya dibalik pendirian sistem bank di dunia saat ini. Kami menyaksikan iringan pengantin ala kerajaan di kapel yang masih se-area dengan kastil lalu seremoni pengantin masuk ke dalam kastin untuk dilanjutkan dengan pesta. Drama anak ingin toilet yang mengharuskan kami ke luar area kastil menuju ruang resepsionis membuat kami kehilangan waktu cukup banyak.

Saat balik ke area kastil, ternyata sudah detik-detik menjelang tutup untuk kunjungan umum. Kami masih diperbolehkan masuk setelah memasukkan tiket ke mesin, namun hanya beberapa ruangan yang bisa kami masuki. Beruntungnya keluarga Aden yang masuk lebih dulu melakukan tur keliling kastil dengan aman sentosa bisa masuk ke ruang mandi, kamar tidur, ruang makan dan ruangan lain yang buanyak sekali jumlahnya.

Oiya, tiket masuknya cukup mahal dan anak usia 4 tahun sudah dihitung 1 tiket. Untuk masuk ke dalam kastil orang dewasa harus membayar €17.

Karena kastil mulai tutup, aku, Yogy dan anak-anak hanya memasuki beberapa ruangan. Dan kami terjebak dalam pesta keluarga baron di lobi utama! Walau jujur saja kami menikmatinya 😀 Tamu undangan pesta mengenakan jas untuk pria dan gaun bagi wanita. Pelayan-pelayan beredar dengan baki menawarkan gelas-gelas tinggi berisi wine dan kue-kue kecil. Standing party dengan bercengkrama, mengobrol dengan kerabat.

Menurutku gaun kerabat kerajaan ini simpel dan sangat sederhana bila dibanding party anak muda di Inggris yang pernah aku jumpai. Benar-benar sederhana dan elegan bahkan dekorasinya pun gak neko-neko kayak wedding party di Indonesia. Tak ada dekorasi mencolok yang kami temui, ya memang keelokan instrument bagunan kastil udah jadi dekorasi terindah.

Empat orang ras jawa terjebak di dalam pesta keluarga baron Belanda kayaknya jadi pemandangan mencolok deh. Manalagi baju kami paling berbeda dengan yang lain hahahah. Akhirnya kami mulai menilisik pintu keluar, kami memutuskan berbalik arah ke lorong tempat kami masuk menuju lobi pesta. Seorang pria ber-name tag akhirnya terlihat, ya dia petugas kastil.

Lalu kami diarahkan menuju pintu keluar tersembunyi. Sebenarnya tidak tersembunyi banget, tapi bagi turis susah menemukannya. Rasanya sayang sekali sudah bayar mahal tapi gak puas keliling ke dalam kastil. Dan yang paling bikin heran, kami masih harus menunggu lama keluarga Aden keluar kastil. Artinya mereka punya waktu leluasa keliling kastil.

Transport menuju kastil De Haar sepertinya hanya lebih nyaman menggunakan mobil pribadi karena kami tidak menjumpai sebatang ekor kendaraan transportasi umum. Mungkin ada transportasi umum namun agaknya harus jalan cukup jauh. Oiya, yang bikin bingung turis asal luar Belanda tentang gerbang parkir otomatisnya. Bila kita memilih mundur berbalik arah karena palang parkir tidak terbuka, coba majukan mobil sampai ke dekat palang, otomatis kebuka. Tentu saja, kami menebeng mobil Aden. Btw, kalau mau hemat dan memilih tidak masuk ke dalam kastil cukup foto di luar dan menikmati taman bungan serta danau kastil

cukup asyik kok!

Kastil Dikelilingi Kolam

 

Enter a caption

Berburu Souvenir di London, Inggris

Saat di UK dan mau balik ke Indonesia, salah satu hal yg disiapin adalah oleh-oleh. Rasanya ada tanggung jawab mental aja bawa oleh-oleh buat keluarga, saudara, teman-teman. Nah, pastinya jumlah oleh-oleh bakalan banyak. Pastinya juga butuh budget lumayan. So, oleh-oleh khas Inggris yg kami cari saat itu:

1. Aneka coklat suitable for vegetarian alias halal di Poundland or Aldi. Aldi sih terutama yang berasa murah dan berkualitas utk coklatnya di kota tempat kami domisili: York.

2. Aneka teh khas Inggris macam Earl Grey atau Yorkshire Tea atau teh aneka rasa. Belinya di Aldi juga.

3. Barang bermerek UK yang lagi diskon, kami belinya di York Designer Outlet. Ted Barker pernah dapet gak sampe 200ribu utk pouch tapi sih (mihil sih emang), Clarks utk tas n sepatu oke kualitasnya dan harganya murah (aku beli yg 200ribuan), Fossil lbh byk dpt di web online-nya krn byk diskon, Cath kidston jarang diskon tapi beli buat keluarga di outlet-nya di York, Reebok dapat 300ribuan dan 200ribuan di York Designer Outlet juga. Pokoknya barang2 branded yg murah ke York DO deh. Itupun kbykan karena barang titipan dan utk keluarga. Ohiya, utk barang2 yg lebih murah kyk tas atau dompet atau jaket tentu saja Primark! Ha ha ha, tapi ya kualitasnya sedang-sedang saja, tapi cukuplah.

3. Souvenir! Nah aneka souvenir ini yang bikin puyeng karena harganya bagi kami yg bawa souvenir byk ya jadi mahal. Di York, beli 3 gantungan kunci harganya £ 10 alias 170ribu, lah kalau beli 50 gantungan kunci berapa jutak? Belum souvenir lain macam pajangan dsb.

Sebelumnya kami juga dpt info beli souvenir online salah satunya lewat: elgate.co.uk namun ternyata ada ketentuan minimal pembelian dan pas dihitung kalau beli di elgate ongkirnya jatuhnya juga lumayan. Mungkin kalo ada temen2 yg mau gabung beli souvenir online bisa aja sih, kalo ga salah minimal 50 s.d. 100 pembelian per piece.

Tapi, bagi kami sih coret karena gak ada rombongan yg beli oleh2 online.

Akhirnya, kami mendapatkan tempat souvenir murah , dgn barang yg sama harganya bisa jauh lebih murah. keyring jatuhnya cuma £1/buah bahkan bisa dapat 12 buah untuk £10 gila kan jauh banget bedanya dengan beli di tempat souvenir biasa.

Dimanakah itu?

Di Portobello, London. Memang kudu ngongkos ke London, tapi saat itu sih kami sekalian ngurusin visa schengen jadi memang bukan khusus agenda beli oleh2.

Nah di Portobello ini byk bgt pedagang muslim, mayoritas pedagang dari Pakistan-India -Bangladesh tentu saja. Jadi kalau pandai Bahasa Pakistan dikit2 bisa tawarlah. Kayak suamiku tiba2 sok bisa padahal cuma ngomong “Sukriya” yang artinya “terima kasih”. Ha ha ha. Gak cuma souvenir sih , Portobello itu menawarkan barang2 antik dan kuno. Buat yg hobi koleksi barang antik kudu nengok deh!

Terus yang kagetnya, pas jalan ke tengah2 pedagang kaki lima tiba2 di sapa “Assalamualaikum Hajjah” kata pedagang2nya. Kayak di Arab ya (padahal blm ke Arab) he he…

Jadi, yang pada mau beli oleh2 souvenir khas UK,wajib dateng ke Portobello!

Geliat dan Kampanye LGBT

                Malam ini saat anak-anak pules banget, tiba-tiba kebangun niat banget buat nulis tentang eljibiti di UK. Well, sebenarnya aku gak tahu banyak karena cuma tiga bulan aja di UK. Namun, waktu itu saat mengunjungi British Library aku merasa wow emang bener-bener gaung kampanye eljibiti itu nyata adanya! Mereka benar adanya disupport oleh pemerintah dalam hal ini, diperbolehkan menyelenggarakan anniversary ke-50 di British Library yang mana, itu museum  perpustakaan gitu lho! Objek wisata edukasi bagi anak-anak kecil dan juga pelajar juga kan.

                Hari itu kami rencananya mengambil visa schengen yang menurut notifikasi dari e-mail sudah dapat diambil di TLS Belgium di Addison Bridge, London. Kami sengaja merencanakan dua hari di London sekaligus berjalan-jalan ke beberapa tempat di London (meski pastinya gak semua kesampean). Nah, berhubung British Library ini letaknya selemparan batu (tapi ngelemparnya pake meriam sih ha ha ha) dari Stasiun King Cross, jadi kita cukup jalan aja sebenarnya setelah keluar dari stasiun. Namun berhubung agak dong2 alias gak mudeng kalo sedeket itu, kami sempet naik bus. Duh sayang kan deposit tiket Oyster jadi berkurang. Oyster itu card buat naik bus di London, beli dan ngisinya di stasiun tube (alias kereta underground-nya London).

                Sebenarnya aku bingung tulisan ini mau bahas British Library atau eljibiti yak, yaudin dua-duanya aja yak. Pertama ke British Library, kita akan berhadapan dengan petugas diperiksa semua barang bawaan dengan metal detector. Kebetulan kami bawa koper ukuran kabin juga karena mau nginep di London. Dibongkarlah itu koper juga. Jadi agak ribet sebenarnya. Petugasnya baik sih, dan poin terpenting: gratis masuknya! He he he.

                The British Library ini adalah perpustakaan nasional United Kingdom dengan menyandang predikat sebagai perpustakaan terbesar ke-2 sedunia berdasarkan jumlah katalognya. Koleksinya mencapai 150 juta dari seluruh penjuru dunia. Banyak harta karun dunia, termasuk lukisan-lukisan Raffles yang pernah menjabat sebagai gubernur Inggris untuk Indonesia saat masa penjajahan. Lukisan Raffles ini menggambarkan flora fauna Indonesia-Malaysia. Bapak yang satu itu memang sangat cinta dengan budaya sekaligus alam Indonesia.

                Selain itu, kita bisa melihat sejarah dan video Magna Carta, tulisan drama Shakespeare  yang melegenda, coretan tangan John Lenon untuk lirik lagu The Beatles dan karya-karya mendunia lainnya. Rasanya kalau bukan karena bawa anak-anak balita pengen berlama-lama di exhibition room. Apalagi saat melihat sejarah tulisan dari masing-masing budaya: China, Arab, Jepang, Eropa , dsb. Pas lihat perkamen-perkamen tulisan zaman dahulu kala makin takjub gitu seolah tersedot ke masa lampau!

                Di sini juga dipamerkan kitab suci asli dari zaman awal-awal masehi hingga perkembangannya sekarang. Di British Library ini tersimpan Al Qur’an dari abad ke-8 hingga abad ke-16. Al Qur’an abad ke-8 berasal dari Arab, abad ke-11 dari Iraq/Persia, abad ke-13 dari Spain/Granada, abad ke-13 dari Cairo-Egypt, abad ke-16 dari semenanjung Malaysia. Tentu saja yang berbeda dari ke semua itu adalah gaya penulisan hurufnya. Namun demikian, sejak pertama AlQur’an dituliskan oleh Zayd Bin Tsabit (sekretaris Rasulullah saw) hingga saat ini sama sekali tidak ada perubahan dan tak pernah ketinggalan zaman. Malah makin terkuak bersinergi dengan pengetahuan alam.

                Kita juga bisa melihat kitab suci asli dari zaman dahulu kala milik Yahudi, Nasrani, Hindu, Buddha dan apalagi ya *lupa. Benar-benar harta karun dunia! Benar-benar berharga, ingin rasanya mendokumentasikan semua informasi penting tapi kan kagak boleh foto, jadi Cuma mengandalkan catat cepat-cepat. Keburu bocah-bocah balita bosan terlalu lama dan berbuat kegaduhan. Yang mana kagak boleh berisik.

                Nah apanya yang tentang eljibiti?

                Intronya panjang banget yak, he he he. Jadi pas pertama lolos dari penggeledahan petugas metal detector yang segala isi koper dan ransel dikeluarkan, hal yang terpampang nyata di lobi Library adalah spanduk besar yang menjulur dari lantai atas : GAY UK, Love & Law Liberty. Awalnya sih bingung ya, masih datar dan gak mudeng gitu baca spanduknya. Eh masa yak di tempat wisata edukasi gini kampanye eljibiti yak? Jadi, masih take slow aja sih. Masih belum ngeh kalau  eljibiti UK lagi anniversary. Iya, anniversary jadi emang lagi pesta merayakan eksistensi mereka di UK.

                Terus, pas lihat-lihat ke spot pameran GAY UK yang mana di ruangan terbuka, mudah banget diakses dan lumayan menarik perhatian deh. Eh kaget lah serius, “eh mas ini kampanye eljibiti?” Tanyaku bisik-bisik. “Ya, biasa aja kali.” Kata suami lempeng. Lah, kalau anak-anak balitaku kan kagak ngerti dan belum bisa baca yak gimana anak lain yang lihat yak? Sumpeh waktu itu, agak geram dan kesel tapi muka santai lah. Santai aja, berasa biasa aja lah, senormal mungkin sambil baca sejarah eljibiti UK dari awal.

                Tapi, sumpah gak kuat bacanya! Sudahlah, bahkan bacanya pun sambil pelan-pelan dan kudu diulangi takut salah pengertian, tapi ujung-ujungnya gak kuat, nyerah! Maaf, gak kuat bacanya terlalu (maaf) menjijikkan dan tidak bisa diterima hati serta pemikiranku. Khawatir malah gue kena cuci otaknya juga. Ya, gimana gak bikin mual kalau ada lukisan hubungan sesama jenis. Juga ditayangkan video pelaku eljibiti yang diwawancara beserta argumen-argumen mereka menuntut love & law liberty-nya. Ada tag yang ditulis gede di situ “Prince Charles can married twice but gay no once.” Lupa sebenarnya kata-kata pas tag linenya apa, kurang lebih gitu bunyinya. Kalau salah ya, salah-salah kata.

Di pameran diceritakan sejarah awal mula pelaku eljibiti di UK dibakar hidup-hidup, selalu dihukum dan disingkirkan dari masyarakat. Lalu, kemudian lahir aktifis-aktifis menyuarakan hak mereka untuk diterima dan dicintai. Kemudian ya, sekarang sudah 50 tahun perayaan organisasi eljibiti UK. Mereka sudah hidup damai, diterima di sekitar penduduk UK. Meski kontroversi tetap ada namun mereka tetap eksis dan bahkan mempunyai diesa sendiri. Di UK terdapat beberapa gay village, yang terkenal diantaranya di: Birmingham, Bristol, London, Leeds, Liverpool, Manchester, dsb. Ya, mereka punya desa untuk kaum mereka tinggal hidup damai!

Serem? Melihat pria-pria berciuman di sepanjang jalan di UK adalah hal biasa saja. Walau sebenarnya tidak cuma di UK, namun juga negara-negara Eropa lainnya. Hal demikian jga kulihat di Belanda dan Prancis. Inilah yang aku takutkan, meski dalam hati tidak terima namun berkebalikan dengan keadaan yang harus dihadapi.

Lalu kemudian teringat oleh kisah Berenice, justru dia yang menemukan sinar iman di London, di tengah hingar bingar dan semrawutnya kehidupan.

Aku bertemu dengan Berenice di masjid King Cross saat berbuka puasa dan beristirahat sekaligus menunaikan sholat Maghrib. Dia mualaf sejak 1,5 tahun silam dan menggunakan nama Fatimah sekarang. Dia berasal dari Mexico yang mencoba peruntungan mencari kerja di London. Saat malam pertama di London, saat itulah dia melihat gerombolan pria-pria tanpa busana melainkan hanya sehelai celana dalam wanita dan menggunakan high heels berlenggak-lenggok sambil minum alcohol di jalan raya London! Sungguh mendegar ceritanya saja mual!

Makin hari, Berenice makin merasakan kekalutan hati! Banyak hal yang tidak diterima nuraninya, dia membutuhkan cahaya Tuhan, hingga akhirnya dia sering bertemu dengan perempuan menggunakan jilbab. Hatinya merasa terketuk untuk mengetahui lebih dalam tentang pegangan hidup.

Berenice mengaku bahwa seumur-umur selama tinggal di Mexico dia belum pernah menjumpai identitas Muslim. Namun, di London dimana segala hal keburukan bisa terjadi, dia menemukan cahaya kebaikan yang tersebar dimana-mana. Di London inilah, kali pertama dia melihat jilbab, di saat itulah dia mulai tertarik ber-Islam.

Begitu panjang ceritaku dengan Berenice (gak cukup dituliskan di sini).

Oiya, satu lagi tentang eljibiti, kala itu anak-anak merengek meminta dibelikan majalah cbeebies di ALDI (swalayan). Oke, aku beli walau merengut karena lumayan harganya bisa beli buah berapa macem gitu ha ha ha (mama hemat). Kaget-terkaget-kaget, saat dibuka di rumah ada gambar seorang anak kelinci (eh kelinci orang atau hewan ya ha ha ha) digandeng tangan oleh ibu kelinci dan ibu kelinci (alias perempuan semua) sementara temen-temen kelinci digandeng tangan sama bapak-ibunya. Saat itu aku gak ngeh, yang ngeh ya anakku yang gede “kok ibunya ada dua?”.

Eh, kenapa ya…”Salah gambar ini, atau mungkin ini tantenya.” Jujur aku masih belum ngeh ada hubungannya dengan kampanye eljibiti. Pas ngobrol santai sama suami “Mas, masa sih tadi beli cbeebies, ibunya ada dua, kagak ada bapaknya. Salah gambar apa gimana sih ini majalahnya.” Laporku. “Kamu kayak gak tahu aja. Itu kampanye eljibiti kali. Udah biasa di sini.” Kata dia santai.

What?! Kampanye mereka memang sasarannya anak-anak. Dimulai dari media tentu saja! Gak heran, beredar viral video serial tayang Disney Junior yang menayangkan anak-anak dengan sepasang orang tua sesama wanita (lesbian). Dan setahuku cbeebies ini memang salah satu program TV-nya BBC, selini sama teletubbies (yang juga menyelipkan kampanye eljibiti)!

Oke, kesimpulan dari tulisan ini adalah: mari jaga anak-anak kita! Kampanye mereka bergerak nyata merusak generasi-generasi masa depan. Selektif memilih tayangan dan tontonan bahkan membeli buku! Orang tua perlu screening semuanya! Saat di UK sih aku ngerasa sebagai pendatang, tapi saat di Indonesia aku merasa sebagai bagian bangsa ini. Dan aku gak ingin, eljibiti mencuci otak anak-anak kita. Tahu kan, hari gini persebaran informasi lewat media itu gak sampai hitungan detik. So, tetap waspada! Apalagi penggunaan media sosial, ngerinnya kebangetan. Sebagai contoh, facebook dan instagram dapat menjadi sarana mudah penyebaran pahamnya. Justru, mereka menggunakan media sosial untuk saling berkenalan dan berjanji temu.

Dan setelah mengunjungi Britsih Library kami mengunjungi Natural History Museum. Lalu terasa pas! Mendadak terasa ancaman di depan mata saat melihat bekas-bekas letusan vulkanik Gunung Vesuvius meluluhlantakkan kota Pompeii, Italia. Berdasarkan penemuan arkeolog, diketahui bahwa penduduk Pompeii melakukan kegiatan sex sesama jenis seperti yang terukir pada grafiti di dinding-dinding kotanya. Saat itu sih, melihat manusia yang membatu karena abu vulkanik aja sudah merasa diingatkan. Tidakkah kita mengambil  pelajaran dari sejarah masa lalu?

 

Trip To Belgium: Bertemu Mohamed Dan Mohamed

Aku tidak tahu apa yang menyebabkan Mohamed yakin bahwa kami adalah pemesan mobilnya. Mungkin karena kami hanya satu-satunya turis yang masih kelayapan tengah malam di area stasiun. Saat kami keluar dari stasiun dan kebingungan mencari Mohamed di antara mobil lainnya, dia memanggil dan menyambut kami. Mohamed membukakan pintu bagasi mobil Mercedes-nya, dengan sigap ia membantu kami memasukkan dan menata barang bawaan. “Oh, kalian membawa bayi?” Mohamed terlihat sedikit terkejut saat aku mengangkat Aisyah dari kereta dorongnya.

 Urusan kereta dorong ini kadang merepotkan, karena kebetulan yang kami punya lumayan memakan tempat saat dilipat. Walau demikian, kereta dorong ini begitu banyak manfaatnya, aku rasa tidak ada yang seberguna ini yang mampu bermanuver dengan berpenumpang dua orang anak. Walau desainnya untuk satu orang anak duduk di kursi, namun terdapat tatakan kaki bagi anak yang lebih besar agar dapat berdiri di belakangnya. Jika kereta dorong lainnya terdapat dua kursi untuk tandem, namun ini cukup satu. Jika kereta dorong lain yang berkursi satu menggunakan buggy board yaitu papan tambahan bagi anak yang lebih besar agar dapat didorong bersama, maka ini sudah terdapat tatakan kaki.

Sungguh urusan kereta dorong ini adalah hal yang penting bagi orang tua yang memiliki bayi dan balita di negara maju. Karena transportasi public terasa aman dan nyaman, kereta dorong memudahkan orang tua bepergian membawa anak-anak mereka. Biasanya selalu terdapat ruang di dalam bus, kereta, atau trem bagi kursi roda dan kereta dorong bayi. Budaya berjalan kaki juga terkadang merepotkan jika berjalan bersama anak balita, kereta dorong ini begitu memudahkan. Tentu saja, trotoar dan area pejalan kaki begitu nyaman bagi orang tua membawa anak-anak mereka dengan kereta dorong. Apalagi cuaca di negara 4 musim begitu cepat berubah, jika angin dingin menerpa, panas menantang terik, hujan datang tiba-tiba maka anak akan tetap aman berlindung di dalam kereta dorong.

 Aku segera membuka pintu mobil belakang, agar anak-anak segera dapat beristirahat. Yogy terlihat kikuk karena salah membuka pintu depan, dia membuka pintu supir di bagian kiri. Belgia dan negara-negara Eropa adalah penganut right-driving countries dimana jalan kendaraan melalui lajur kanan sehingga letak roda kemudi di sebelah kiri. Sementara Indonesia dan Inggris menerapkan aturan left-driving countries dalam berlalu lintas, sehingga letak setir berada di sebelah kanan. “Oh, maaf aku lupa jika di Eropa letak kemudi di sebelah kiri.” Kata Yogy bingung saat salah membuka pintu. Aku begitu menikmati berada dalam Mercedes matic-nya. Joknya empuk dan isi kabin mobil terasa mewah. Anak-anak terlihat sangat antusias walau mengantuk, mereka juga ikut menikmati sensasi Mercedes yang aku tidak tahu seri berapa tapi aku rasa ini seri baru. Mobil pun melaju menuju tujuan.

            Yogy duduk di kursi depan dan mengobrol banyak hal dengan Mohamed. Mohamed, aku perkirakan usianya sekitar 35 tahun, wajahnya campuran antara Eropa dan Afrika Utara, yah khas wajah Maroko. Rambutnya berwarna kemerah-merahan dan sedikit ikal, kulitnya putih, hidungnya mancung tentu saja, perawakannya sedang  dan mata  besar cekungnya mengingatkanku pada Babe, ayahku. Mohamed lancar menggunakan Bahasa Inggris. Entah darimana dan siapa duluan yang membuka percakapan hingga akhirnya, kami sama-sama yakin bahwa kami adalah sesama saudara Muslim yang dipertemukan. “Masya Allah, Masya Allah, Masya Allah…” adalah kata-kata yang sering dia dan suamiku ucapkan. Kami begitu tak menyangka disambut oleh saudara di perantauan. Alhamdulillah, kami merasa begitu dimudahkan, dan disambut oleh indahnya Islam di tanah Eropa.

            Mohamed sesekali tampak berpikir saat berbicara, ia terkadang mengucapkan Bahasa Prancis lalu menganulirnya lagi dengan Bahasa Inggris. “Kalian tahu Berber (Barbar)? Nenek moyangku berasal dari bangsa Berber. Kampung halamanku di Marrakesh, sekali-kali kalian harus datang.” Mohamed menceritakan tentang keluarga dan kampung halamannya. “Oh iya, tentu saja, aku ingin sekali mengunjungi Maroko. Tapi saat aku melihat tiket pesawat dari Inggris ke Maroko rasanya cukup mahal, jadi aku membawa keluargaku keliling Eropa.” Ujar Yogy. “Ya, bulan ini memang harga tiket ke Maroko gila-gilaan. Kamu bisa mencobanya saat bulan Agustus nanti, biasanya harga tiket membaik.” Saran Mohamed. Kota Brussel tengah malam masih terlihat sepi dan damai. Jam di dashboard mobil menunjukkan angka 01.30. “Berapa lama kita akan sampai di penginapan?” Tanya Yogy. “Tidak jauh, paling lama 30 menit, aku rasa bisa lebih cepat.” Jawab Mohamed mantap.

            Aku mulai cemas waktu sahur ternyata hitungan jam lagi. Namun kami belum mengisi perut dengan makanan berat, untuk sahur pun kami tidak memiliki bekal. Bahkan kami belum menunaikan sholat Maghrib dan Isya yang rencananya akan kami jama’ di penginapan. Tidak disangka begitu banyak kendala di perjalanan hingga bertemu dengan Mohamed sekarang. “Pukul berapa kita sahur nanti?” Yogy bertanya pada Mohamed. Sebenarnya ini hanya pertanyaan pemastian karena kami tinggal mencari Brussel prayer time di internet. “Fajar terbit sekitar pukul 3. Sebentar, aku pastikan dulu…” Kata Mohamed sambil sibuk mencari sesuatu di laci dashboard lalu dia  membuka kotak penyimpanan di dekat persneling. Selembar kertas dia berikan kepada Yogy. “Kamu bisa melihat jadwal sholat Brussel di lembar itu. Aku berikan untukmu.” Kata Mohamed sambil  memberikan lembaran jadwal sholat. “Oh Brother, aku tidak begitu memerlukannya. Kami cukup satu hari di Belgia lalu besok kami akan ke Belanda. Ini kamu simpan saja atau untuk yang lainnya, barangkali ada yang lebih membutuhkan.” Yogy menolak secara halus. “Kamu yakin?” Tanya Mohamed memastikan. “Tentu saja.” Kata Yogy sambil tersenyum.

            “Bagaimana komunitas muslim di sini? Apakah cukup banyak? Dimanakah kami dapat menemukan masjid?” Yogy bertanya banyak hal. Sungguh akupun sangat antusias dan ingin rasanya terlibat dalam obrolan menarik mereka. “Kami di sini menggunakan Madzhab Hanafi, masjid cukup mudah ditemui. Kebanyakan Muslim di sini adalah imigran, sama sepertiku yang berasal dari Maroko.” Cukup banyak obrolan kami di sepanjang jalan. “Apakah kamu bisa menggunakan Bahasa Arab?” Tanya Yogy, karena Maroko menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa resminya. “Tidak begitu fasih hanya mengerti sedikit. Aku bisa menggunakan Bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Belanda, Jerman….” Katanya sambil tertawa. “Masya Allah!Itu keren! Aku hanya bisa menggunakan Bahasa Arab ‘Illa Qalilan Qalila’ hahahha…” Seloroh Yogy, yang artinya dia tidak bisa menggunakan  Bahasa Arab kecuali  sedikit demi sedikit.

            Sungguh obrolan tengah malam itu sangat menakjubkan. Sesekali Yogy menggunakan Bahasa Arab sederhana dengan Mohamed lalu mereka tertawa. Kami yang baru berjumpa malam itu terasa seperti saudara yang lama tidak pernah bertemu. “Ummi…pulang…pulang…” Aisyah mulai merajuk. Anak-anak terlihat sangat kelelahan. “Sebentar ya, sebentar lagi sampai.” Kataku menenangkan anak-anak.

            “Selain Maroko aku  juga ingin mengunjungi Gibraltar.” Kata Yogy. “Oh benarkah? Nenek moyangku berasal dari Gibraltar, kamu tahu nama Gibraltar itu berasal dari kata Jabal Thariq ( Gunung Thariq), namun lidah bangsa Eropa susah menyebutnya hingga terciptalah nama Gibraltar.” Kata Mohamed dengan senang menjelaskan. “Ya, aku tahu, bagaimana Thariq bin Ziyad dengan kecerdasan dan keberaniannya berhasil mengIslamkan daerah Andalusia  ..”Timpal Yogy. “Ya…Thariq Bin Ziyad. Beliaulah yang meluaskan dakwah Islam sampai ke tanah Eropa.” Jelas Mohamed. Masya Allah! ini memang bukan kali pertama kami bertemu dengan Muslim asing, dan ini juga bukan kali pertama kami merasa seperti bertemu dengan teman dekat. Entah kenapa obrolan kami dengan Mohamed begitu terasa seperti saudara dekat apalagi saat kami memiliki persepsi dan pengetahuan yang sama tentang Islam dan sejarahnya. Islam benar-benar menyatukan kami yang berasal dari bangsa yang berbeda.

            Thariq Bin Ziyad, adalah nama seorang Jenderal pasukan Muslim pada masa kekhalifahan Bani Umayah yang saat itu ditugaskan untuk mengIslamkan daerah semenanjung Iberia. Semenanjung yang kini menjadi negara Portugis dan Spanyol, saat itu merupakan wilayah Kerajaan Hispania yang dikuasai oleh Kristen Visigoth. Thariq Bin Ziyad berhasil menaklukan Iberia pada pertempuran Guadalate di tahun 711 M. Thariq cerdas dalam mengatur strategi perang, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal saat mendarat di bukit Calpe dan berpidato di depan anak buahnya untuk membangkitkan semangat mereka:

Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.

Pasukan yang dipimpin oleh Thariq Bin Ziyad terkobar semangatnya, tak ada pilihan untuk pulang dan menyerah karena tidak ada armada yang bisa membawa mereka pulang. Satu-satunya jalan adalah menang! Strategi Thariq ini juga merupakan strategi terbaik jika pasukan Muslim mengalami kekalahan. Jika kalah, pasukan Kerjaan Visigoth tidak akan bisa berbalik menyerang wilayah Bani Umayyah dengan menggunakan kapal-kapal pasukan Muslim.

Daerah yang dikuasai kekhalifahan Bani Umayyah ini disebut dengan Kerajaan Al-Andalus atau Andalusia yang saat ini meliputi daerah Portugis, Spanyol dan Prancis Selatan. Andalusia melalui enam periode kepemimpinan Umat Muslim dengan berbagai macam bentuk pemerintahan. Masa-masa kejayaan Islam di Bumi Andalusia berpengaruh besar terhadap kemajuan negara-negara Eropa pada masa itu. Selama 8 abad lamanya Bumi Andalusia bagaikan lentera membuka tabir kegelapan negara-negara Eropa. Di semenanjung itulah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam, arsitektur, seni, karya sastara dan tatanan masyarakat yang paling tinggi di zamannya. Melalui Andalusia inilah Muslim berdiaspora menuju tanah Eropa, awal mula kebangkitan semangat Renaissance Bangsa Eropa.

Jika kita mendengar kota-kota destinasi wisata: Barcelona, Madrid, Sevilla, Cordova, Granada. Maka sesunguhnya pada abad ke-7 hingga menjelang abad ke-15 kota-kota tersebut termasuk dalam wilayah pemerintahan Islam. Kejayaan selama 8 abad lamanya, akhirnya berakhir ketika Granada jatuh ke tangan aliansi kerajaan-kerajaan Kristen pada tahun 1492 M. Sinar-sinar Islam di tanah Eropa mulai meredup perlahan sejak 5 abad yang lalu, namun jejak kejayaan masih terasa di beberapa kota di Spanyol dan Portugis.

Dan di tengah-tengah kami sekarang, terdengar cerita kehebatan Thariq Bin Ziyad langsung dari Mohamed, seorang yang silsilahnya berasal suku bangsa Berber. Menurut sejarawan, Tharid Bin Ziyad berasal dari Berber (Barbar). Namanya diabadikan menjadi nama bukit pintu gerbang Spanyol dari arah Maroko yang sebelumnya bernama Calpe dan kemudian dikenal dengan Jabal Thariq (Gibraltar) untuk mengenang kehebatannya yang mendarat di bukit tersebut saat penaklukan semenanjung Iberia.

            Mobil berhenti di pertigaan saat lampu merah. Pandanganku mengitari jajaran pertokoan di sisi jalan. Semua tutup, yah di Eropa biasanya  pukul 5 sore pertokoan sudah tutup. Apalagi tengah malam menjelang Fajar seperti ini, aku masih berharap masih menemukan cafeteria di sekitar penginapan nanti untuk hidangan sahur kami. Kalaupun tidak ada ya, jatah biscuit anak-anak dan air mineral akan menjadi hidangan buka dan sahur kami malam mini.

            Lampu hijau menyala, Mohamed bersiap melajukan mobil kembali. Namun tiba-tiba mesin mobil mati. Mohamed mencoba beberapa kali menstarter mesin, namun tidak ada tanda-tanda akan menyala sama sekali.  Aku kembali cemas, ini mobil matic, tak mudah jika berhubungan dengan elektriknya. Mobil benar-benar tidak bisa dinyalakan. Mohamed berusaha berbagai cara selama kurang lebih 5 menit namun gagal. “Maaf, maaf atas ketidaknyamanan ini. Aku tidak menyangka terjadi di tengah malam begini. Sungguh selama ini tidak ada masalah, baru kali ini saja mobil ini bermasalah.” Katanya merasa bersalah. Mohamed sibuk menghubungi teman-temannya melalui selulernya. Cukup lama kami terdiam dalam mobil, sementara itu Aisyah sudah tertidur pulas namun Harits masih terjaga. Astaghfirullah, hatiku menciut rasanya begitu banyak halangan dan rintangan. Setelah sebelumnya  pesawat keberangkatan dari Inggris ke Belgia delay, sedikit ketegangan di dalam bus dari bandara Charleroi, terkatung-katung di Stasiun Brussels, dan sekarang terkatung-katung di tengah jalan raya kota Brussels.

            Untungnya posisi mobil di tepi jalan sehingga tidak membuat kemacetan, namun cukup menarik perhatian. Seorang pria tua berjalan sempoyongan di trotoar nampak memperhatikan kami dari kejauhan lalu mendekat sambil mengatakan sesuatu. Aku rasa, dia orang mabuk. Mohamed mengusirnya. Lalu sebuah mobil bercat putih menghampiri mobil kami dari sisi kiri, menawarkan bantuan. Terlihat pengemudi mobil putih keturunan ras kulit hitam, terlihat gantungan bertuliskan Arab menggantung di spion dalam mobil. Mungkin ini teman Mohamed, namun  Mohamed menolaknya. “Tenang saja, aku sudah menghubungi temanku. Dia akan datang sebentar lagi.” Mohamed menghibur kami, walau wajah paniknya tak bisa ditutupi. Mohamed sibuk menghubungi teman-temannya yang lain, dia sepertinya bertanya bagaimana menangani mobil matic yang mati total. Berbagai cara ia lakukan sesuai intruksi temannya melalui handphone, namun tetap saja tidak ada hasil menggembirakan.

            Tiba-tiba entah kenapa, aku terkesiap. Pikiran buruk bermunculan, jangan-jangan ini jebakan kriminalitas. Siapa tahu ini hanya modus, lalu datang orang jahat merampok kami di tengah jalan. Ahh, entahlah aku rasa mugkin aku berlebihan atau memang pikiranku buruk sekali. Akhirnya, buru-buru aku beristighfar dan memohon ampun atas segala kesalahan. Aku pandangi wajah anak-anakku. Aku peluk Aisyah yang tertidur di pangkuan. Semoga segera ada pertolongan.

            Kami menunggu cukup lama, mungkin sekitar 10 menit. Rasanya waktu lambat berjalan karena suasana yang tegang. Mohamed menelpon kembali temannya. Kami tidak mengetahui apa yang dia bicarakan dengan temannya karena semuanya penuh dalam bahasa Prancis. “Temanku sudah mendekati posisi kita. Sebentar lagi kalian akan aku pindahkan ke mobil temanku agar kalian bisa melanjukan perjalanan.” Jelas Mohamed. “Apakah ini tidak merepotkan?” Yogy bertanya hati-hati. “Oh tentu saja tidak, ini tanggung jawabku Brother. Maafkan atas kejadian yang tidak mengenakkan ini ya.”Kata Mohamed.

            Mobil sejenis van berhenti di belakang mobil kami. Mohamed segera keluar dari mobil dan menyambut kedatangan temannya. Kami turun dari mobil, teman Mohamed membukakan pintu geser di kursi belakang mobil. “Silakan naik Madam…”Sambutnya. Oh, aku bersyukur supir kali ini juga menggunakan Bahasa Inggris tidak seperti kebanyakan warga Belgia. Aku dan anak-anak segera masuk ke dalam mobilnya, berlindung dari terpaan angin yang dingin. Di saat inilah pikiran buruk kembali membuatku terkesiap, bagaimana jika mereka adalah komplotan penjahat lalu menculik kami.  Segera aku kembali memperbanyak dzikir. Terlihat Mohamed dan temannya mengobrol sebentar lalu berpisah. Yogy menyusul menaiki mobil dan duduk di depan di sebelah posisi supir. “Assalamu’alaikum…” Sapa supir dan Yogy hampir berbarengan kepada Mohamed seiring dengan melajunya mobil van kami. Ah, driver kali ini ternyata juga seorang Muslim. Ya, walau sedari tadi saat Mohamed menelpon temannya sudah kuduga bahwa ia menelpon sesama muslim karena pada tengah malam seperti ini kiranya semua orang tertidur, kecuali jika yang tengah mempersiapkan sahur atau tengah beribadah malam ramadhan.

Driver kali ini terlihat kental nuansa wajah Arab. Perawakannya besar dan tambun seperti kebanyakan postur Arabian lainnya. Jenggot dan jambangnya terlihat menghiasi wajahnya, dia menggunakan kacamata. Suaranya berat dan ramah. Aku salut, tengah malam seperti ini di waktu manusia kebanyakan beristirahat, dia masih mengangkat telepon Mohamed dan segera membantu Mohamed untuk mengantarkan kami. “Yaa…kami tidak menyangka ada masalah dengan mobil Mohamed.” Kata Yogy membuka percakapan. “Aku baru saja tidur dan langsung terbangun saat Mohamed menelponku, hahaha..” Supir tertawa ringan menanggapi. Dia menyalakan radio, tebak saluran apa yang dia putar? Entah saluran radio apa, tapi terdengar suara penceramah radio menggunakan Bahasa Arab. Aku tidak menyangka umat Islam mempunyai radio tersendiri di Brussel dan masih mengudara tengah malam, oh atau ini khusus saat Bulan Ramadhan? Aku tidak tahu.

“Aku Yogy berasal dari Indonesia. Siapa namamu Brother?” Tanya Yogy. “Masya Allah, Indonesia! Ya aku tahu, Indonesia adalah Negara mayoritas Muslim bukan? Aku Mohamed, aku keturunan Maroko, sama seperti Mohamed (driver sebelumnya).” Kata Mohamed. “Oh, jadi namamu Mohamed juga? Wow, lalu apa perbedaan namamu dengan namanya? Apakah ada kata kedua setelah nama Mohamed?” Tanya Yogy antusias. “Tidak, namaku Mohamed, nama dia juga Mohamed. Hanya Mohamed, tidak ada nama selanjutnya. Kamu tahu? Mohamed adalah nama paling popular di Brussel. Hampir setiap bayi laki-laki muslim yang lahir diberi nama Mohamed.” Mohamed menjelaskan dengan bangga, santai dengan suaranya yang merdu dan ramah.

“Pada awalnya aku juga ingin menamai anak lelakiku Muhammad, namun aku merasa nama itu terlalu banyak yang menggunakannya. Lalu aku memberi nama anakku dengan nama Harits. Kamu tahu ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa nama yang paling baik adalah Hammam dan Harits. Ya…seperti itulah.” Cerita Yogy. “Oh nama yang bagus juga.” Kata Mohamed.

Aku begitu terkesima, aku mendengar pembicaraan mereka dengan rasa gak karuan. Haru, bahagia, senang, tersentuh, bersyukur. Ya Allah, bertambah iman kami pada-Mu Ya Allah. Memang bukan sekedar nama, tapi dari sebuah nama bisa menunjukkan identitas, harapan, dan doa. Dan di Belgia inilah kami dengan mudah menemukan Islam dari sebuah nama.

Ya Allah, betapa indah malam ini, Engkau mempertemukan kami dengan saudara Muslim di tanah Eropa. Dibalik setiap kesusahan-kesusahan yang kami temui sepanjang perjalanan menuju Belgia, ternyata menggiring kami untuk dipertemukan Mohamed dan Mohamed. Mohamed, sebuah nama yang begitu membahagiakan bagi kami saat berjumpa dengannya.

Mohamed adalah nama popular di Brussel. Bagaimana bisa? Sebuah nama Islam menjadi nama popular di tanah Eropa? Nyatanya saat aku mencari info tentang muslim di Belgia, agama Islam adalah agama paling banyak pemeluknya setelah agama Kristen. Maka tak heran dikarenakan Belgia berpenduduk sedikit, jika setiap Muslim memberi nama anak lelaki mereka Mohamed tentu saja Mohamed menjadi nama popular. Sama seperti di Indonesia bukan? Kebanyakan muslim yang dikaruniai bayi lelaki memberi nama anak mereka dengan Muhammad. Walau kebanyakan pula setelah kata Muhammad disambung dengan nama lainnya.

“Apakah kamu menggunakan Bahasa Arab?” Yogy bertanya penasaran. Aku rasa ini pertanyaan wajar, karena sejak tadi radio yang diputar adalah ceramah Bahasa Arab yang tidak kami pahami. “Tentu saja! Aku bisa berbahasa Arab, Inggris, Spanyol, Prancis, Belanda, Jerman. Bagaimana denganmu? Apakah kamu menggunakan bahasa Arab?” Tanyanya. “Masya Allah Brother, tentu saja aku bisa illa qalilan qalila (kecuali sedikit demi sedikit)” Seloroh Yogy. Bagiku tidak kaget mendengar Yogy menggunakan kalimat itu. Selama aku membersamainya di Inggris, Yogy sering menggunakan seloroh itu kepada Muslim Arab yang ia temui. “Kamu besar di Belgia?” Tanya Yogy penasaran. “Iya, orang tuaku sudah lama di Belgia, aku lahir dan besar di Belgia. Namun ayahku mengajariku Bahasa Arab, sehingga aku cukup fasih menggunakannya.” Jelas Mohamed. Belgia adalah negara multicultural yang mempunyai 3 bahasa resmi: Prancis, Belanda dan Jerman. Tidak heran penduduk di sini dapat menguasai banyak bahasa.

Aku selalu kagum dan tersentuh bila mendengarkan cerita sosok orang tua yang mendidik anaknya sungguh-sungguh. Kali ini aku mendapatkan cerita bagaimana ayah Mohamed mengajarinya Bahasa Arab hingga fasih, meski Mohamed lahir dan hidup di Belgia. Bahasa kampung halamannya dan tentu saja bahasa Al Qur’an kitab suci yang kami anut. Kepada orang-orang yang mengerti Bahasa Arab tentu aku merasa sangat iri, karena lebih mudah memahami Al Qur’an langsung dari bahasa aslinya.

Waktu kebersamaan kami dengan Mohamed hanya sebentar, aku rasa tak lebih dari 15 menit lalu kami telah sampai di depan penginapan.  Rasa lega tentu saja, rasanya ingin membaringkan tubuh, menselonjorkan kaki, membersihkan badan, mengganti baju anak-anak yang terkena tumpahan makanan-minuman, sholat dan tentu saja memersiapkan sahur yang tinggal satu jam lagi. Walau dalam hati aku ciut, saat melihat ke arah penginapan yang gelap gulita, pintu tertutup rapat dan tak ada tanda-tanda kehidupan. Kami datang terlalu malam, pukul 2 pagi , padahal check in terakhir seharusnya pukul 11 malam.

*bersambung

WhatsApp Image 2017-08-19 at 07.45.05

Train Hostel tempat kami menginap

Trip To Belgium

Saat itu buka puasa pukul 21.52 waktu Brussels, Belgium. Kami, berbuka puasa di atas ketiggian karena pesawat belum mendarat. Hitungan menit pesawat kami akan mendarat sempurna di Bandara Charleroi, Brussels. Kami berangkat dari Bandara Manchester, United Kingdom dengan rentang perjalanan kurang lebih 1,5 jam mengudara. Perbedaan waktu antara Britania Raya dan Belgia sebenarnya menguntungkan kami yang sedang berpuasa. Karena sahur waktu Inggris dan berbuka waktu Belgia (yang lebih cepat satu jam). Kami saat itu hanya berbuka puasa dengan sedikit gigitan kue dan beberapa teguk air mineral milik anak-anak (karena ketentuan tidak memboleh cairan ke dalam kabin pesawat).

WhatsApp Image 2017-08-05 at 02.13.57(7)

Manchester Airport

Mendarat sempurna di Charleroi, menjejakkan kaki pertama di benua Eropa dengan maskapai murah Ryan Air yang saat itu kami dapatkan 8 Poundsterling untuk tiket satu orang atau sekitar Rp 135.000,- dengan keberangkatan dari Manchester, Inggris. Saat itu bulan tengah bertengger sempurna di atas langit Belgia. Malam ke-13 bulan Ramadhan. Rembulan hampir membulat, cahaya terangnya berpendar menyambut kami.

WhatsApp Image 2017-08-05 at 02.13.57

Kabin Ryan Air

Kami ber-4 masih meraba ada apa di Belgia? Sebelumnya kami sudah memesan penginapan milik seorang Indonesia, namun ada tragedy yang cukup bodoh hehe…Kami lupa men-cancel hotel yang kami booking untuk persyaratan visa Schengen. Karena nginap atau enggak di hotel tersebut ya bakal tetap ke-debet dari rekening ya, kita putuskan menginap hotel yang kami booking untuk semalam.

Ternyata dari Charleroi menuju Brussels cukup panjang perjalanan sekitar 1 jam dengan menggunakan bus. Jadi ini sebabnya harga tiket murah, karena letak airport yang agak jauh dari kota. Sementara saat itu, bila memilih airport di Brussels harga jauh lebih mahal meski dibanding tujuan airport Chaleroi walau sudah ditambah biaya bus ke Brussels. Saat itu sudah larut malam, walau belum waktu Isya. Karena Isya saat summer sekitar pukul 00.

WhatsApp Image 2017-08-05 at 02.13.57(9)

Charleroi Airport

Kami akhirnya mendapatkan bus yang bisa dibeli tiketnya di area bandara. Tiket terakhir untuk keberangkatan pukul 00. Rencana membeli online agar mendapatkan harga lebih murah gagal karena handphone mati total.  Bad, kami juga tidak membawa power bank dan handphone kami lack of battery. Iya inilah bisa dibilang the worst thing untuk traveling kali ini. Semua data pemesanan, rute, gmap, kamera tentu saja sangat kami butuhkan. Entah kenapa di Bandara Charleroi gak ada colokan listrik buat umum berbeda dengan di UK yang melimpah terminal listrik di fasilitas umum.

Bus berangkat dari bandara pukul 00 lebih sekian menit, dan anak-anak masih antusias menahan kantuk. Siapa sih yang gak suka naik bus? Aku rasa setiap anak akan antusias naik bus. Beberapa botol air minum kami beli di pedagang makanan sekitar Bandara. Jujur, perut rasanya keroncongan ingin diisi karena kami berbuka hanya dengan ala kadarnya. Namun, melihat aneka macam makanan yang dijajakan di pinggir jalan membuat kami ragu akan kehalalannya. Bekal roti pun tak seberapa, karena lebih banyak ditujukan untuk anak-anak. Alias udah jadi jatah mereka.

Singkat cerita, akhirnya tengah malam dengan kondisi lelah dan juga dihantui dengan tambahan biaya karena telat check in hotel kami ber-4 menaiki bus yang menghantarkan kami ke Brussels. Nuansa Eropa sudah terasa saat bahasa Prancis mulai terdengar dimana-mana. Kami sempat bersitegang dengan supir bus saat hanya terdapat 3 tempat duduk kosong. Padahal kami telah memesan tiket untuk 4 orang. Tadinya kami memutuskan agar Azagirl yang masih 3 tahun dipangku, karena malas berlama-lama. Namun kemudian, seorang lelaki baik hati menegur dan sedikit berdebat dengan supir. Tentu saja mereka menggunakan Bahasa Prancis yang begitu asing di telinga kami. Ternyata masih ada kursi kosong lagi setelah penumpang diatur posisi duduknya. Akhirnya kami ber- 4 mendapatkan kursi di bus. Capek! Rasanya ingin tidur lelap…Alzamboy dan Azagirl pun gak perlu waktu lama untuk langsung terlelap.

Kami mengobrol cukup lama dengan seorang lelaki yang membantu kami mendapatkan bangku di bus. Lelaki tersebut bersama istri dan anaknya yang masih balita duduk di dekat kami. Mereka lancar berbahasa Inggris sehingga kami bisa bercerita apa saja. Ternyata mereka berasal dari Portugal dan sudah lama tinggal di Brussels. “orang-orang di sini  kurang sopan, kalian harus terbiasa dengan penduduk di sini.” Kurang lebih begitu yang mereka wanti-wanti pada kami. Tentu saja kami yang baru pertama keluar dari United Kingdom dan menjejakkan kaki di Eropa merasakan hal tersebut. Di sinilah kami benar-benar menyadari, tanah Britania Raya benar-benar terasa hangat dan ramah.

“Anak duduk di pangkuan saat bekendara adalah suatu hal yang beresiko. Itu melanggar aturan. Seharusnya supir bus mementingkan keselamatan anak dan kalian pun sudah memesan tiket bukan?” Istri dari lelaki tersebut berbicara panjang lebar. Karena alasan itulah mereka membela kami untuk mendapatkan kursi untuk anak. Oh seandainya mereka tahu seperti apa orang tua dan anaknya berkendara di Indonesia yang jauh dari standar aman. Oiya, saat ditanya tentang Indonesia mereka ternyata tahu, iya…Portugal dan Indonesia memang ada sejarah masa lalu kan ya.

Bus berhenti di Bruxelles Central, lalu kami berpisah dengan keluarga asal Portugal tersebut. Lalu kami terdiam sementara hendak kemana dan menggunakan apa. Handphone mati total, dan saat itu sudah tengah malam, pukul 01 pagi. Anak-anak terlihat mengantuk berat namun akhirnya membuka mata saat udara dingin menyergap kami. Kami memilih berdiam di dalam Bruxelles Central, stasiun kereta api Brussels. Azagirl sebenarnya tidak masalah, dia memilih berbaring di dalam kereta dorong, hanya saja tentu saja Alzamboy yang terlihat uring-uringan karena dia hanya bisa di berdiri dudukan kaki pada kereta dorong. Dia punya keahlian tidur dalam posisi berdiri lho jika kondisi gak memungkinkan untuknya bebaring atau, duduk. Kami menyusuri lobi stasiun hingga peron, sama sekali tidak tampak terminal listrik untuk mengisi baterai handphone. Stasiun tengah malam terasa dingin dan sepi. Beberapa orang (mungkin tak memiliki tempat tinggal) berbaring di lantai stasiun beralaskan selimut dan berselimutkan jaket.

Aku mulai cemas, kami benar-benar hilang arah. Tidak semua orang di sini menggunakan bahasa Inggris, berbagai tulisan dan petunjuk arah juga menggunakan Bahasa Prancis/Belanda. Aku juga agak khawatir karena belum menghubungi pihak hotel tentang keterlambatan check in kami, dan tentu saja bayangan fee keterlambatan check In menghantui. Belum lagi, kami tidak yakin akan menaiki transportasi apa ke hotel. Taxi, ah iya tentu saja bisa. Namun taxi terakhir terlihat tadi, dan saat ini kami belum menjumpai taxi lagi. Jika tersesat sendiri rasanya cemas, sekarang bersama anak-anak rasanya ahhh…yah, merasa menyesal karena power bank bisa tertinggal.

Akhirnya setelah naik turun lift dan menyusuri sudut-sudut stasiun, kami menemukan terminal listrik di dekat tempat parkir sepeda dan keran air minum. Suami menyalakan handphone sambil mengisi baterai searching berbagai informasi, sementara itu aku mengisi botol air minum yang mulai berkurang isinya. Anak-anak mulai rewel, angin dingin malam terasa kencang menerpa posisi kami yang tepat di depan gerbang masuk lobi stasiun. Aku membawa anak-anak berkeliling stasiun yang sunyi, tak ada kehidupan. Syukurlah, mereka lebih tenang dibawa keliling dibanding harus berdiam menunggu abinya mencari informasi di handphone. Saat berkeliling stasiun, aku baru mengetahui jika toilet di sini diharuskan membayar melalui mesin. Tentu saja, sangat berbeda dengan kondisi di UK. Tulisan dan petunjuk terpampang dimana-mana menggunakan Bahasa Prancis, tak banyak informasi yang didapatkan dari stasiun tengah malam.

Tak lama kemudian, suami mengabarkan bahwa kami sudah mendapatkan driver uber yang tengah menanti di Hilton Hotel di luar stasiun. “Baca deh nama supirnya siapa.” Kata suami sambil menyodorkan handphone-nya. “Mohamed?” Aku membaca nama driver yang tertera di layar handphone. 

Mohamed….

Pikiranku melayang sekitar 2 bulan lalu saat aku dan anak-anak pertama kali singgah di York, UK. Saat itu kami mendapatkan driver uber bernama Ali Khan, dia mengantarkan kami dari York Station ke Halifax College tempat kami bermukim. Ali Khan seorang muslim dan bercerita banyak hal di sepanjang jalan. Mohamed, ternyata awal menjejakkan kaki di benua Eropa ini kami disambut juga oleh seorang Muslim.

Lalu kami segera bergegas, setengah berlari menuju ke luar stasiun untuk menjumpai Mohamed. Sabar ya Nak, sebentar lagi kita sampai ke penginapan (kami harap). Walau ternyata masih ada cerita lagi agar sampai ke penginapan.

*bersambung….

 

Say Bye Bibi Apik

Tahun ini tahun ke-5 Bibi Apik membersamai kami. Duh ya, rasanya banyak suka-duka bersama terlewati , kesel, seneng, semuanya. Tapi ya karena faktor usia, kelihatan banget Bibi berkurang lincahnya, udah mulai gak bisa diajak kerjasama saat butuh. Untuk anak-anak yang masih balita ya jadi susah juga ngawasinnya. Apalagi Alzam yang makin sering eksplorasi main di luar.
Berhubung udah berasa jadi saudara sendiri ya, semua kami jalani. Beberapa kali Bibi sakit dan akhirnya aku cuti untuk rawat Bibi di rumah. Beberapa kali juga aku mengantarkannya dia ke RS dan klinik. Bibi juga sudah terlihat mudah lelah namun tetap ingin bekerja. Akhirnya momen aku dan anak-anak ke UK selama 3 bulan jadi momen perpisahan bagi kami.
Sebelum berangkat ke UK,  bibi bilang akan bekerja di tempat lain dan akan kembali lagi kerja sama aku. Tapi, saat aku hubungi sekembalinya aku ke Indonesia, Bibi bilang sudah ambil kerjaan di jakarta. Saat itu aku harus cepat cari penggantinya, karena aku mulai ngantor. Alhamdulillah sekarang dapat Teteh Baik yang sekaligus jadi teman main anak-anak (terutama Azagirl).

Tapi kemudian Bibi menghubungiku lagi (tentu yang mengoperasikan HP saudaranya, karena Bibi gak bisa pakai HP). Bibi gak jadi kerja di Jakarta (dalam hati, akupun sangsi Karena faktor usia kayaknya capek banget Bibi kalau kerja di tempat orang lain) . Duh, dilemma. 
Berhubung Teteh Baik sudah komit kerja denganku, dan pada awalnya Bibi yang bilang sudah kerja di Jakarta. Jadi ya, maaf.  Saat ini, posisi suami masih di UK, aku kerja dan wiken juga ada kegiatan butuh tenaga bantuan yang masih gesit juga bisa jadi teman main anak-anak. 
Alhamdulillah, semoga langgeng dengan Teteh Baik. Dengan Bibi Apik masih bisa banget komunikasi, lagian baju-bajunya masih di rumah dan HPku masih dia bawa. Cuma kadang mellow kalau mengingat 5 tahun gimana awalnya rumah tipe standar, belum punya mobil, anak masih satu, yaaaa Bibi bener-bener menyaksikan dan membersamai perjuangan kami.
Sehat-sehat ya Bi, semoga dapat kerjaan yang baik. Kalau mengingat usia Bibi yang udah mau kepala 6 ya, sedih sih Bibi masih kerja. Sudah kelihatan capeknya Bibi…yah, makasih banyak semuanya ya Bibi.